Sudah 2 minggu Adam tidak menghubungiku atau datang menemuiku. akupun juga tidak mencoba untuk menghubunginya. aku mencoba membiasakan diri hidup tanpa adam, mencoba menjalani kehidupanku seperti sebelum kehadiran adam. tapi tetap aku merasa ada yang hilang. hari-hariku menjadi tidak lengkap tanpa kabar apapun atau kehadiran adam. sebelum peristiwa terakhir, adam selalu menemani hari-hariku minimal kami bertukar kabar kalaupun tidak bertemu. hari ini harusnya aku kuliah. tapi karena moodku juga sedang drop aku memutuskan untuk membolos. aku hanya tiduran di kasur seharian ini, malas untuk ngapa-ngapain. aku mengambil ponselku, aku sudah tidak tahan menahan rasa rinduku pada adam. aku mencoba menelpon adam tapi tidak diangkat. aku akhirnya hanya sms adam.
"dam u dimana?sehatkan?." aku hanya ingin tau kabarnya. aku mengkhawatirkan adam.
sudah satu jam aku mengirimkan sms tadi tapi juga tidak ada balasan. akhirnya aku menelpon Arif sahabatnya Adam sekaligus teman satu kosnya. aku mencari nomer arif dan menelponnya, tidak lama telponku diangkat.
" halo rif, apa kabar?." aku menyapa arif ala kadarnya.
" halo vin, aku baik. kamu gimana?. lama nggak main ke kos?." terdengar suara arif dari seberang sana.
"aku baik rif. kamu tau kabarnya Adam nggak?."aku bertanya pada arif tentang adam.
"lhoh adam nggak kasih tau kamu?. dia udah 3 hari ini sakit. aku nggak tau dia sakit apa. tapi dia lemas disuruh makan juga susah. udah 2 mingguan dia sering mengurung diri di kamarnya sepertinya makan pun juga nggak. puncaknya 3 hari yang lalu dia pingsan di dekat kamar mandi. teman-teman kos yang menolong. ketika dia sadar, teman-teman kos mau membawa adam ke rumah sakit tapi dia nggak mau. akhirnya teman-teman hanya membelikan obat dan makanan buat adam. tapi tadi pagi aku liat adam tidur dan makanan yang semalem temen-temen belikan tidak disentuh sedikit pun. terakhir makan kemarin sore itupun aku yang maksa." papar arif panjang lebar. hatiku mencelos mendengarnya.
"apa sheila nggak dateng ke kosnya adam buat ngrawat dia?." aku bertanya pada arif lagi.
"2 minggu lalu sheila terakhir dateng ke kos. tapi adam minta sheila buat nggak dateng ke kos. dengan alasan karena cewek nggak boleh masuk. padahal aslinya kos kami bebas. aku hanya mendengarnya sekilas karena mereka memang ngobrol di ruang tamu dan saat itu aku mau ke kamar mandi. habis itu sheila nggak pernah datang lagi." papar arif.
"adam cerita sesuatu sama kamu nggak?." aku makin khawatir dengan adam.
"aku sudah mencoba tanya masalahnya adam. tapi dia nggak cerita apa-apa. dia hanya murung dan mengurung dirinya di kamar. udah dua minggu dia juga nggak masuk kuliah. aku hanya melarang adam mengunci kamarnya. dan dia mengiyakan. adam tertutup, temen-temen kos bingung ngliat adam kayak gitu. kami hanya mencoba buat ngajak ngobrol atau kadang ngajak dia jalan-jalan tapi dia tetep nggak bergeming. padahal sebelumnya dia paling usil di kos dan paling cerewet." terdengar arif menghela napas panjang di seberang.
"udah ya, bentar lagi aku ada jam kuliah. kamu dateng aja ke kos mungkin kalo kamu yang dateng dan merawat dia, dia bisa lebih baik." arif mau menyudahi telpon kami karena dia mau kuliah.
" iya terima kasih rif buat infonya." aku mengakhiri telpon kami.
tidak membutuhkan waktu lama aku berjalan ke kosnya adam. karena kos kami memang hanya sekitar kampus. karena memang aku maupun adam tidak ada yang memiliki kendaraan jadi kami hanya bisa berjalan kaki atau meminjam sepeda kampus kalau mau kemana-mana.
aku langsung masuk ke kosnya adam karena memang tidak di kunci. aku menuju kamar adam dan mengetoknya pelan. tidak ada sahutan dari dalam kamar. aku masuk ke kamar kos. aku melihat adam sedang tidur. aku kaget melihat kondisi adam dan kamarnya yang berantakan. adam terlihat lebih kurus, pucat dan rambutnya awut-awutan. kamarnya berantakan baju dimana-dimana bekas-bekas piring dan gelas. aku tidak membangunkan adam, aku membereskan kamar adam dan mengumpulkan baju kotornya ke dalam kresek untuk nanti aku masukkan laundry, aku juga mencuci gelas dan piring kotornya. selesai membereskan kamar adam, aku duduk di samping tempat tidurnya, menggemgam tangan adam dan aku menempelkan dahiku di punggung tangannya, aku menangis melihat kondisinya sekarang. aku berusaha menahan tangisku agar tidak mengganggu tidurnya. tapi apa daya, aku tidak bisa menahannya tangisku pecah, adam melenguh membuka matanya dan dia melihatku menangis. dia berusaha bangun tapi kesulitan. aku membantunya bangun sambil terus sesenggukan. adam membawaku dalam pelukannya. aku menangis sejadi-jadinya dan dia makin mengeratkan pelukannya. entah sudah berapa lama aku menangis. adam mulai melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku. aku masih sesenggukan, aku melihatnya tersenyum.
" aku tidak apa-apa vin. jangan khawatir." adam bicara pelan seperti tidak punya tenaga. dia mencoba menghapus segala kekhawatiranku. aku beringsut memeluk adam lagi. aku menyembunyikan wajahku di cerukan lehernya menghirup aroma maskulin yang sudah lama aku rindukan. aroma yang selalu membuat aku tenang. tapi yang aku cium bercampur bau asem.
"humm, acemmm..berapa hari kamu nggak mandi?." aku mencoba mencairkan suasana dengan bercanda sambil menutup hidungku. meskipun memang benar bau badan adam bercampur bau asem.
"hahaha...aku lupa kapan terakhir aku mandi." adam tertawa kecil. dia mencium kaos dan tubuhnya sendiri.
" lepas bajumu, aku akan mengambilkan air hangat."aku beringsut ke dapur kosnya adam dan mengambil baskom. aku mengambil handuk kecil dan handuknya adam. aku kembali ke kamarnya.
aku mengusap pelan badan bagian atas adam, tangan dan kakinya dengan posisi dia duduk disangga bantal di belakangnya. terakhir aku mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya. aku mengambil kaos bersih dari lemari dan memakaikannya ke adam. setelah selesai aku merapikan kembali kamarnya dan ke dapur. aku kembali ke kamar adam setelah selesai mengembalikan baskom ke dapur. adam sangat lemah saat ini. aku duduk di pinggir kasurnya aku membingkai wajah adam dengan kedua tanganku. dia menggenggam tanganku di wajahnya dan menciumnya lama. saat itu pula air matanya mengalir. aku menghapus air mataa itu, aku tidak mau melihat adam menangis lagi. entah sudah berapa banyak air mata yang dia habiskan semenjak peristiwa itu.
"sudahlah dam, jangan menangis lagi. aku ada disini. kita jalani ini sama-sama. aku akan membantumu. aku akan selalu dibelakangmu ketika kamu butuh aku. kapanpun itu."aku meyakinkan adam untuk bangkit. menghilangkan semua ketakutan dia. meyakinkan dia kalau aku akan selalu ada dipihaknya. aku akan mendukung apapun keputusannya. siap menjadi tempat dia bersandar dan tempat dia kembali.
" kamu tidak akan pergi dariku?. kamu akan terus bersamaku?. tidak akan meninggalkan aku seperti dua minggu lalu?. tidak akan memintaku untuk pergi?." adam terus mengeluarkan pertanyaan-itu berulang kali. dia benar-benar ketakutan aku pergi meninggalkannya. aku terharu melihatnya. sebegitu pentingkah aku buatnya, sebegitu berartinya kah kehadiranku untuknya.
"aku janji, maafkan aku waktu itu. aku menarik kata-kataku waktu itu." aku meyakinkan adam aku tetap akan bersamanya.
"waktu itu, nyawaku seperti tercabut, waktu kamu menyuruhku untuk meninggalkanmu. duniaku seakan runtuh. aku tidak sanggup menanggungnya. " adam mengungkapkan perasaannya dia menangis lagi. kali ini aku membiarkannya. mungkin dengan begini dia menjadi lebih lega.
" aku tidak tau caranya menjalani hari-hariku tanpamu. setelah ssebulan menjalani hari-hari terus bersamamu. semua duniaku berpusat padamu. tiba-tiba kau pergi. aku seperti hilang arah. semuanya kacau, semuanya berantakan. aku berpikir tidak lama aku mungkin akan mati." dia terus bercerita sambil memainkan tanganku dalam genggamannya.
aku menangis mendengarnya. aku tidak menyangka sebesar itu pengaruhku dalam hidupnya. aku sendiri tidak sampai sebegitu hancurnya dua minggu tanpanya, aku hanya bersedih tapi aku tetap bisa menjalani aktifitasku dengan normal. adam benar-benar menggantungkan hidupnya padaku dan aku bingung harus bagaimana.
"kamu nggak bisa gitu dam. kamu masih punya tuhan yang bisa kamu jadian tumpuan. kamu masih punya mimpi-mimpi kamu yang harus kamu perjuangkan. kamu masih punya keluargamu yang bisa kamu jadikan motivasi. kamu jangan hanya terpaku sama aku. kamu harus kuat dalam menjalani hidup ini dam. aku mungkin hanya sementara bagimu. bisa saja orang lain yang menjadi jodohmu. jadi, jangan hanya terpaku sama aku. ingat tujuan awalmu datang ke kota ini. ingat komitmen pertama kita yaitu untuk mendukung satu sama lain menggapai mimpi masing-masing, bukan menjadi penghambat." aku mencoba mengingatkan adam sekali lagi komitmen kami untuk pacaran selain memang karena kami memang saling menyukai.
"apa kamu ingin meninggalkanku lagi." adam dengan tangisnya salah paham dengan kata-kataku.
"nggak dam. aku hanya..." belum selesai aku menyelesaikan kalimatku. adam menaruh jari telunjuknya di bibirku. dia menarikku dalam pelukannya lagi.
" jangan katakan apapun, biarkan seperti ini dulu. biarkan aku menikmati waktuku sekarang. jangan kemana-mana dulu. entah apa yang akan ku lakukan kalo aku tidak menemukanmu hari ini. aku mungkin sudah bunuh diri. saking putus asanya aku."adam makin mengeratkan pelukannya. aku hanya pasrah dengan perlakuannya. mungkin saat ini ini yang dibutuhkan adam. dia butuh waktu lagi untuk bangkit dari keterpukurannya sekarang.
"aku tidak akan kemana-mana adam. kalo kamu tidak menemukanku disini kamu bisa menghubungiku kapan pun, kamu bisa datang ke kosku atau ke kampusku kapanpun kamu mau menemuiku."aku meyakinkan adam sekali lagi.
hari sudah sore. hari itu aku menemani adam di kosnya sampai jam 8 malam. dia mulai menemukan semangatnya lagi. dia sudah mau makan dan minum obat. adam berangsur-angsur pulih. 2 hari kemudian adam sudah mulai kuliah lagi. tapi sheila masih menjadi masalah tersendiri untuk adam dan hubungan kami. untuk sementara adam menghindar dari sheila. dia hampir setiap hari datang ke kosku. kami menghabiskan waktu bersama dari pulang kuliah sampai malam meskipun hanya jalan-jalan dan makan disekitaran kampus. karena kami memang terhambat kendaraan.
sewaktu sore pulang kuliah aku melihat pengumuman di mading kampus ada info lomba paper dan hadiahnya juga lumayan besar. untuk pemenang pertama hadiahnya 5 juta. lumayan besar aku pikir.
kemudian terbersit sebuah ide di otakku. aku menghubungi adam dan membuat janji bertemu di perpustakaan universitas setelah ini.aku berjalan menuju tempat janjianku dengan adam. tak lama adam datang. kami mencari spot yang agak sepi. aku berniat membicarakan ideku pada adam.
" dam aku ada ide untuk menyelesaikan masalah dengan sheila." aku menyampaikan ideku pada adam. raut wajah adam berubah serius.
"maksudmu?." adam mengerutkan keningnya bingung tidak mengerti arah pembicaraanku.
"aku mau ikut lomba paper, hadiahnya lumayan besar. bagaimana kalo kamu juga ikutan, supaya kita bisa cepat mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang bokapnya sheila." tawarku pada adam.
"vin, ini masalahku. aku nggak mau membebanimu. aku nggak mau masalah ini mengganggu kuliahmu." adam tidak yakin dengan ideku. dia bermaksud pergi karena tidak mau membicarakan ini lagi. aku mencegahnya, aku dengan cepat menarik pergelangan tangannya. menariknya supaya duduk lagi. aku pindah duduk disamping adam.
"kamu kira aku rela kalo kamu sampai harus pacaran dengan sheila. ini tidak akan mengganggu kuliahku. justru ikut lomba-lomba paper seperti ini akan menjadi pengalaman menarik dan membuat cv ku menarik dam. nggak ada yang rugi. aku bisa melatih kemampuanku menulis dan kita bisa segera bebas dari sheila."aku mencoba meyakinkan adam.
"apalagi kalo kamu juga ikutan lomba paper yang lain, aku kira kita akan makin cepat mengumpulkan uang untuk membayar pinjamanmu ke bokapnya sheila. nggak ada salahnya kita coba dam. emang kamu mau gimana?, kamu mau kerja partime?,sampai tahun depan pun belum tentu bisa terkumpul."aku terus berusaha membujuk adam. adam terlihat serius memikirkannya.
"ok, kita coba." adam menyetujui ideku. dia ingin memelukku tapi aku mencegahnya karena saat ini posisi kami sedang di kampus. adam hanya tertawa pelan. mulai hari itu aku dan adam banyak nongkrong di perpus UGM menghabiskan waktu disana untuk mengerjakan paper lomba yang kami ikuti. kami berusaha keras mengumpulkan uang untuk melunasi hutang adam pada ayahnya sheila. adam benar-benar mengabaikan sheila. aku mengikuti beberapa lomba begitupun juga adam. dalam waktu 3 bulan uang 20 juta sudah kami kumpulkan dari hadiah lomba-lomba yang kami ikuti. setelah uang itu terkumpul adam menghubungi sheila. adam dan sheila janjian di cafe di seberang kampus jam 7 malam. akupun diajak juga oleh adam untuk menemui sheila. ketika aku dan adam sampai di cafe sheila sudah berada disana di bangku pojok cafe. aku dan adam menuju bangku tempat sheila berada.
"hai shel. apa kabar?."sapa adam pada sheila yang saat itumemandang tajam ke arah kami.aku dan adam duduk di seberang sheila. adam terus menggenggam tanganku.
"baik dam, kamu sendiri gimana?. 3 bulan lebih kita nggak ketemu. bagaimana mungkin kamu menghindari calon istrimu sendiri dam?. padahal kita satu fakultas, kadang kita satu kelas. bagaimana bisa kamu benar-benar mengacuhkan aku?." sheila terus menatap tajam ke arahku.
"hai shel, kenalin aku vina, pacarnya adam." aku mengulurkan tangan berusaha untuk tetap ramah pada sheila.
"Ohhhh..jadi karena wanita ini kamu mengacuhkan aku dam, DASAR WANITA JALANG!!." sheila mengamuk. tangannya hampir menggapaiku bermaksud menjambak rambutku, tapi berhasil ditahan adam. kami menjadi pusat perhatian di cafe itu. adam berusaha menenangkan sheila.
"duduk atau aku pergi."ancam adam pada sheila.
akhirnya sheila memilih duduk. kami memesan minum sambil menunggu pesanan kami adam mulai membuka pembicaraan.
" shel, sorry sebelumnya kalo aku sudah menyakitimu dengan mengacuhkanmu. aku hanya ingin kamu sadar, dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah menyukaimu barang sedikit pun. aku hanya menganggapmu teman sekolahku. tidak lebih. jadi aku mohon, lepaskan obsesimu padaku. itu sangat menyiksaku. apalagi aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai. aku harap kamu mengerti dan menyudahi semuanya."papar adam panjang lebar, berusaha memberi pengertian pada sheila secara baik-baik.
"trus bagaimana dengan perjanjian ibumu dan ayahku?."sheila balik bertanya pada adam.
"aku sudah ada uangnya." jawab adam dengan mantap. adam mengeluarkan amplop uang 17 juta dan menyodorkannya pada sheila.
"kamu kira semudah ini mengakhiri perjanjian itu?, kamu kira ibumu hanya sekali datang ke rumah ayahku untuk meminjam uang?. entah sudah berapa utang ibumu pada keluargaku. apa aku harus meminta ayahku untuk menyita rumahmu dan mengusir keluargamu dari rumah sehingga mereka semua jadi gelandangan?. ancam sheila pada adam. adam mulai gusar, badannya bergetar mendengar ancaman sheila. adam makin menguatkan genggamannya pada tanganku.
"maksudmu gimana shel?." aku berusaha tetap tenang dan memperjelas maksud sheila.
sheila mengeluarkan HP-nya dan menelpon ayahnya.
" halo pah, ini ada adam mau bicara. dia mau menanyakan hutang ibunya pada papah." sheila memberikan HP-nya pada adam. adam tak bergeming.badannya makin bergetar. aku menyahut HP Sheila dan menaruh di kuping adam.
" halo dam, gimana, apa yang perlu saya jelaskan?" suara papanya sheila dari seberang sana.
"bapak berapa jumlah hutang keluarga saya pada keluarga bapak, dan apa yang sudah dijaminkan ibu pada bapak?." tanya adam pada papanya sheila.
" bentar saya cari catatannya dulu. jumlahnya 132 juta. itu sudah akumulasi pinjaman dari kamu SMA dan sampai buat sekolah adek-adekmu. itupun saya tidak memberi bunga karena bagaimanapun kalian tinggal di kecamatan yang saya pimpin. ibumu sudah menjaminkan serifikat rumah kalian. tapi karena perjanjian terakhir yang ibumu menyanggupi bahwa kamu akan menikahi sheila ketika sudah bekerja nanti. sertifikat rumah kalian akan saya kembalikan saat itu dan semua hutang akan saya anggap lunas. tapi kalo sekarang kan kalian baru semester satu. jadi, nikmati saja waktu kalian. dan jangan sungkan-sungkan kalo kamu butuh sesuatu. karena saya sudah berjanji akan membiayai kuliah dan kebutuhanmu sampai kamu lulus. tolong jaga sheila ya. ada lagi yang mau kamu tanyakan?"tanya papanya sheila dari seberang sana.
" tidak ada pak, terima kasih banyak." adam mengakhiri pembicaraanya dan memberikan hapenya ke sheila. badannya makin bergetar.
"udah dulu pa, makasih, nanti sheila hubungi papa lagi." sheila memutus telponnya.
" bagaimana dam?. apa kamu tetap akan memutus perjanjian itu?. konsekuensinya ibu dan adek-adekmu akan tinggal di jalanan. oke, silahkan berpikir lagi. aku kasih kamu waktu 1X24 jam buat memikirkan semuanya." sheila bangkit dan bermaksud meninggalkan kami. sebelum itu dia menggeser amplop uang disodorkan adam kepadanya.
" apa begitu caramu mengikat orang yang kamu cintai,tidakkah itu terlalu kejam?." aku berkata sarkatis. sheila berhenti mendengar kata-kataku.
"kenapa tidak?. kalo aku sudah berusaha meminta dia mencintaiku secara baik selalu gagal. kenapa tidak dengan cara begini. dia tidak mungkin bisa lari dariku lagi." sheila kemudian berlalu meninggalkan kami.
adam sudah tidak mampu berkata apa-apa. pandangannya sudah tidak fokus, badannya bergetar. dia shock hebat dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. aku mengambil amplop uang yang ditaruh sheila di depan adam dan membayar pesananku dan adam dan segera pergi dari cafe itu bersama adam tentunya. di sepanjang perjalanan menuju kosnya adam hanya diam dan pandangannya kosong. dia hanya mengikuti tuntunanku. aku membawa adam ke kosnya yang memang tidak terlalu jauh dari cafe tadi. aku menuntun sampai kamarnya dan membaringkan adam.kemudian menyelimutinya. badan adam masih bergetar. keringat dingin membanjiri tubuhnya. arif masuk ke kamar adam.
"kenapa dia?." arif penasaran dengan apa yang terjadi pada adam.
"sssstt, nggak apa-apa. keluarlah dulu biar adam bisa istirahat."aku mengusir arif dari kamar adam.
adam masih belum sadar dari keterkejutannya. dia masih diam dengan tatapan kosong dan badan bergetar. aku bermaksud meninggalkan adam supaya dia bisa istirahat. baru aku mau meninggalkan kamar tersebut. adam menahan tanganku.
" kenapa dam?. kamu butuh sesuatu?." aku menggenggam tangannya mencoba menenangkan dia.
"tolong jangan tinggalkan aku ." sekali lagi adam harus terpuruk dan sekali lagi aku harus melihat ini semua.
#bersambung#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar