Sudah 2 minggu Adam tidak menghubungiku atau datang menemuiku. akupun juga tidak mencoba untuk menghubunginya. aku mencoba membiasakan diri hidup tanpa adam, mencoba menjalani kehidupanku seperti sebelum kehadiran adam. tapi tetap aku merasa ada yang hilang. hari-hariku menjadi tidak lengkap tanpa kabar apapun atau kehadiran adam. sebelum peristiwa terakhir, adam selalu menemani hari-hariku minimal kami bertukar kabar kalaupun tidak bertemu. hari ini harusnya aku kuliah. tapi karena moodku juga sedang drop aku memutuskan untuk membolos. aku hanya tiduran di kasur seharian ini, malas untuk ngapa-ngapain. aku mengambil ponselku, aku sudah tidak tahan menahan rasa rinduku pada adam. aku mencoba menelpon adam tapi tidak diangkat. aku akhirnya hanya sms adam.
"dam u dimana?sehatkan?." aku hanya ingin tau kabarnya. aku mengkhawatirkan adam.
sudah satu jam aku mengirimkan sms tadi tapi juga tidak ada balasan. akhirnya aku menelpon Arif sahabatnya Adam sekaligus teman satu kosnya. aku mencari nomer arif dan menelponnya, tidak lama telponku diangkat.
" halo rif, apa kabar?." aku menyapa arif ala kadarnya.
" halo vin, aku baik. kamu gimana?. lama nggak main ke kos?." terdengar suara arif dari seberang sana.
"aku baik rif. kamu tau kabarnya Adam nggak?."aku bertanya pada arif tentang adam.
"lhoh adam nggak kasih tau kamu?. dia udah 3 hari ini sakit. aku nggak tau dia sakit apa. tapi dia lemas disuruh makan juga susah. udah 2 mingguan dia sering mengurung diri di kamarnya sepertinya makan pun juga nggak. puncaknya 3 hari yang lalu dia pingsan di dekat kamar mandi. teman-teman kos yang menolong. ketika dia sadar, teman-teman kos mau membawa adam ke rumah sakit tapi dia nggak mau. akhirnya teman-teman hanya membelikan obat dan makanan buat adam. tapi tadi pagi aku liat adam tidur dan makanan yang semalem temen-temen belikan tidak disentuh sedikit pun. terakhir makan kemarin sore itupun aku yang maksa." papar arif panjang lebar. hatiku mencelos mendengarnya.
"apa sheila nggak dateng ke kosnya adam buat ngrawat dia?." aku bertanya pada arif lagi.
"2 minggu lalu sheila terakhir dateng ke kos. tapi adam minta sheila buat nggak dateng ke kos. dengan alasan karena cewek nggak boleh masuk. padahal aslinya kos kami bebas. aku hanya mendengarnya sekilas karena mereka memang ngobrol di ruang tamu dan saat itu aku mau ke kamar mandi. habis itu sheila nggak pernah datang lagi." papar arif.
"adam cerita sesuatu sama kamu nggak?." aku makin khawatir dengan adam.
"aku sudah mencoba tanya masalahnya adam. tapi dia nggak cerita apa-apa. dia hanya murung dan mengurung dirinya di kamar. udah dua minggu dia juga nggak masuk kuliah. aku hanya melarang adam mengunci kamarnya. dan dia mengiyakan. adam tertutup, temen-temen kos bingung ngliat adam kayak gitu. kami hanya mencoba buat ngajak ngobrol atau kadang ngajak dia jalan-jalan tapi dia tetep nggak bergeming. padahal sebelumnya dia paling usil di kos dan paling cerewet." terdengar arif menghela napas panjang di seberang.
"udah ya, bentar lagi aku ada jam kuliah. kamu dateng aja ke kos mungkin kalo kamu yang dateng dan merawat dia, dia bisa lebih baik." arif mau menyudahi telpon kami karena dia mau kuliah.
" iya terima kasih rif buat infonya." aku mengakhiri telpon kami.
tidak membutuhkan waktu lama aku berjalan ke kosnya adam. karena kos kami memang hanya sekitar kampus. karena memang aku maupun adam tidak ada yang memiliki kendaraan jadi kami hanya bisa berjalan kaki atau meminjam sepeda kampus kalau mau kemana-mana.
aku langsung masuk ke kosnya adam karena memang tidak di kunci. aku menuju kamar adam dan mengetoknya pelan. tidak ada sahutan dari dalam kamar. aku masuk ke kamar kos. aku melihat adam sedang tidur. aku kaget melihat kondisi adam dan kamarnya yang berantakan. adam terlihat lebih kurus, pucat dan rambutnya awut-awutan. kamarnya berantakan baju dimana-dimana bekas-bekas piring dan gelas. aku tidak membangunkan adam, aku membereskan kamar adam dan mengumpulkan baju kotornya ke dalam kresek untuk nanti aku masukkan laundry, aku juga mencuci gelas dan piring kotornya. selesai membereskan kamar adam, aku duduk di samping tempat tidurnya, menggemgam tangan adam dan aku menempelkan dahiku di punggung tangannya, aku menangis melihat kondisinya sekarang. aku berusaha menahan tangisku agar tidak mengganggu tidurnya. tapi apa daya, aku tidak bisa menahannya tangisku pecah, adam melenguh membuka matanya dan dia melihatku menangis. dia berusaha bangun tapi kesulitan. aku membantunya bangun sambil terus sesenggukan. adam membawaku dalam pelukannya. aku menangis sejadi-jadinya dan dia makin mengeratkan pelukannya. entah sudah berapa lama aku menangis. adam mulai melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku. aku masih sesenggukan, aku melihatnya tersenyum.
" aku tidak apa-apa vin. jangan khawatir." adam bicara pelan seperti tidak punya tenaga. dia mencoba menghapus segala kekhawatiranku. aku beringsut memeluk adam lagi. aku menyembunyikan wajahku di cerukan lehernya menghirup aroma maskulin yang sudah lama aku rindukan. aroma yang selalu membuat aku tenang. tapi yang aku cium bercampur bau asem.
"humm, acemmm..berapa hari kamu nggak mandi?." aku mencoba mencairkan suasana dengan bercanda sambil menutup hidungku. meskipun memang benar bau badan adam bercampur bau asem.
"hahaha...aku lupa kapan terakhir aku mandi." adam tertawa kecil. dia mencium kaos dan tubuhnya sendiri.
" lepas bajumu, aku akan mengambilkan air hangat."aku beringsut ke dapur kosnya adam dan mengambil baskom. aku mengambil handuk kecil dan handuknya adam. aku kembali ke kamarnya.
aku mengusap pelan badan bagian atas adam, tangan dan kakinya dengan posisi dia duduk disangga bantal di belakangnya. terakhir aku mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya. aku mengambil kaos bersih dari lemari dan memakaikannya ke adam. setelah selesai aku merapikan kembali kamarnya dan ke dapur. aku kembali ke kamar adam setelah selesai mengembalikan baskom ke dapur. adam sangat lemah saat ini. aku duduk di pinggir kasurnya aku membingkai wajah adam dengan kedua tanganku. dia menggenggam tanganku di wajahnya dan menciumnya lama. saat itu pula air matanya mengalir. aku menghapus air mataa itu, aku tidak mau melihat adam menangis lagi. entah sudah berapa banyak air mata yang dia habiskan semenjak peristiwa itu.
"sudahlah dam, jangan menangis lagi. aku ada disini. kita jalani ini sama-sama. aku akan membantumu. aku akan selalu dibelakangmu ketika kamu butuh aku. kapanpun itu."aku meyakinkan adam untuk bangkit. menghilangkan semua ketakutan dia. meyakinkan dia kalau aku akan selalu ada dipihaknya. aku akan mendukung apapun keputusannya. siap menjadi tempat dia bersandar dan tempat dia kembali.
" kamu tidak akan pergi dariku?. kamu akan terus bersamaku?. tidak akan meninggalkan aku seperti dua minggu lalu?. tidak akan memintaku untuk pergi?." adam terus mengeluarkan pertanyaan-itu berulang kali. dia benar-benar ketakutan aku pergi meninggalkannya. aku terharu melihatnya. sebegitu pentingkah aku buatnya, sebegitu berartinya kah kehadiranku untuknya.
"aku janji, maafkan aku waktu itu. aku menarik kata-kataku waktu itu." aku meyakinkan adam aku tetap akan bersamanya.
"waktu itu, nyawaku seperti tercabut, waktu kamu menyuruhku untuk meninggalkanmu. duniaku seakan runtuh. aku tidak sanggup menanggungnya. " adam mengungkapkan perasaannya dia menangis lagi. kali ini aku membiarkannya. mungkin dengan begini dia menjadi lebih lega.
" aku tidak tau caranya menjalani hari-hariku tanpamu. setelah ssebulan menjalani hari-hari terus bersamamu. semua duniaku berpusat padamu. tiba-tiba kau pergi. aku seperti hilang arah. semuanya kacau, semuanya berantakan. aku berpikir tidak lama aku mungkin akan mati." dia terus bercerita sambil memainkan tanganku dalam genggamannya.
aku menangis mendengarnya. aku tidak menyangka sebesar itu pengaruhku dalam hidupnya. aku sendiri tidak sampai sebegitu hancurnya dua minggu tanpanya, aku hanya bersedih tapi aku tetap bisa menjalani aktifitasku dengan normal. adam benar-benar menggantungkan hidupnya padaku dan aku bingung harus bagaimana.
"kamu nggak bisa gitu dam. kamu masih punya tuhan yang bisa kamu jadian tumpuan. kamu masih punya mimpi-mimpi kamu yang harus kamu perjuangkan. kamu masih punya keluargamu yang bisa kamu jadikan motivasi. kamu jangan hanya terpaku sama aku. kamu harus kuat dalam menjalani hidup ini dam. aku mungkin hanya sementara bagimu. bisa saja orang lain yang menjadi jodohmu. jadi, jangan hanya terpaku sama aku. ingat tujuan awalmu datang ke kota ini. ingat komitmen pertama kita yaitu untuk mendukung satu sama lain menggapai mimpi masing-masing, bukan menjadi penghambat." aku mencoba mengingatkan adam sekali lagi komitmen kami untuk pacaran selain memang karena kami memang saling menyukai.
"apa kamu ingin meninggalkanku lagi." adam dengan tangisnya salah paham dengan kata-kataku.
"nggak dam. aku hanya..." belum selesai aku menyelesaikan kalimatku. adam menaruh jari telunjuknya di bibirku. dia menarikku dalam pelukannya lagi.
" jangan katakan apapun, biarkan seperti ini dulu. biarkan aku menikmati waktuku sekarang. jangan kemana-mana dulu. entah apa yang akan ku lakukan kalo aku tidak menemukanmu hari ini. aku mungkin sudah bunuh diri. saking putus asanya aku."adam makin mengeratkan pelukannya. aku hanya pasrah dengan perlakuannya. mungkin saat ini ini yang dibutuhkan adam. dia butuh waktu lagi untuk bangkit dari keterpukurannya sekarang.
"aku tidak akan kemana-mana adam. kalo kamu tidak menemukanku disini kamu bisa menghubungiku kapan pun, kamu bisa datang ke kosku atau ke kampusku kapanpun kamu mau menemuiku."aku meyakinkan adam sekali lagi.
hari sudah sore. hari itu aku menemani adam di kosnya sampai jam 8 malam. dia mulai menemukan semangatnya lagi. dia sudah mau makan dan minum obat. adam berangsur-angsur pulih. 2 hari kemudian adam sudah mulai kuliah lagi. tapi sheila masih menjadi masalah tersendiri untuk adam dan hubungan kami. untuk sementara adam menghindar dari sheila. dia hampir setiap hari datang ke kosku. kami menghabiskan waktu bersama dari pulang kuliah sampai malam meskipun hanya jalan-jalan dan makan disekitaran kampus. karena kami memang terhambat kendaraan.
sewaktu sore pulang kuliah aku melihat pengumuman di mading kampus ada info lomba paper dan hadiahnya juga lumayan besar. untuk pemenang pertama hadiahnya 5 juta. lumayan besar aku pikir.
kemudian terbersit sebuah ide di otakku. aku menghubungi adam dan membuat janji bertemu di perpustakaan universitas setelah ini.aku berjalan menuju tempat janjianku dengan adam. tak lama adam datang. kami mencari spot yang agak sepi. aku berniat membicarakan ideku pada adam.
" dam aku ada ide untuk menyelesaikan masalah dengan sheila." aku menyampaikan ideku pada adam. raut wajah adam berubah serius.
"maksudmu?." adam mengerutkan keningnya bingung tidak mengerti arah pembicaraanku.
"aku mau ikut lomba paper, hadiahnya lumayan besar. bagaimana kalo kamu juga ikutan, supaya kita bisa cepat mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang bokapnya sheila." tawarku pada adam.
"vin, ini masalahku. aku nggak mau membebanimu. aku nggak mau masalah ini mengganggu kuliahmu." adam tidak yakin dengan ideku. dia bermaksud pergi karena tidak mau membicarakan ini lagi. aku mencegahnya, aku dengan cepat menarik pergelangan tangannya. menariknya supaya duduk lagi. aku pindah duduk disamping adam.
"kamu kira aku rela kalo kamu sampai harus pacaran dengan sheila. ini tidak akan mengganggu kuliahku. justru ikut lomba-lomba paper seperti ini akan menjadi pengalaman menarik dan membuat cv ku menarik dam. nggak ada yang rugi. aku bisa melatih kemampuanku menulis dan kita bisa segera bebas dari sheila."aku mencoba meyakinkan adam.
"apalagi kalo kamu juga ikutan lomba paper yang lain, aku kira kita akan makin cepat mengumpulkan uang untuk membayar pinjamanmu ke bokapnya sheila. nggak ada salahnya kita coba dam. emang kamu mau gimana?, kamu mau kerja partime?,sampai tahun depan pun belum tentu bisa terkumpul."aku terus berusaha membujuk adam. adam terlihat serius memikirkannya.
"ok, kita coba." adam menyetujui ideku. dia ingin memelukku tapi aku mencegahnya karena saat ini posisi kami sedang di kampus. adam hanya tertawa pelan. mulai hari itu aku dan adam banyak nongkrong di perpus UGM menghabiskan waktu disana untuk mengerjakan paper lomba yang kami ikuti. kami berusaha keras mengumpulkan uang untuk melunasi hutang adam pada ayahnya sheila. adam benar-benar mengabaikan sheila. aku mengikuti beberapa lomba begitupun juga adam. dalam waktu 3 bulan uang 20 juta sudah kami kumpulkan dari hadiah lomba-lomba yang kami ikuti. setelah uang itu terkumpul adam menghubungi sheila. adam dan sheila janjian di cafe di seberang kampus jam 7 malam. akupun diajak juga oleh adam untuk menemui sheila. ketika aku dan adam sampai di cafe sheila sudah berada disana di bangku pojok cafe. aku dan adam menuju bangku tempat sheila berada.
"hai shel. apa kabar?."sapa adam pada sheila yang saat itumemandang tajam ke arah kami.aku dan adam duduk di seberang sheila. adam terus menggenggam tanganku.
"baik dam, kamu sendiri gimana?. 3 bulan lebih kita nggak ketemu. bagaimana mungkin kamu menghindari calon istrimu sendiri dam?. padahal kita satu fakultas, kadang kita satu kelas. bagaimana bisa kamu benar-benar mengacuhkan aku?." sheila terus menatap tajam ke arahku.
"hai shel, kenalin aku vina, pacarnya adam." aku mengulurkan tangan berusaha untuk tetap ramah pada sheila.
"Ohhhh..jadi karena wanita ini kamu mengacuhkan aku dam, DASAR WANITA JALANG!!." sheila mengamuk. tangannya hampir menggapaiku bermaksud menjambak rambutku, tapi berhasil ditahan adam. kami menjadi pusat perhatian di cafe itu. adam berusaha menenangkan sheila.
"duduk atau aku pergi."ancam adam pada sheila.
akhirnya sheila memilih duduk. kami memesan minum sambil menunggu pesanan kami adam mulai membuka pembicaraan.
" shel, sorry sebelumnya kalo aku sudah menyakitimu dengan mengacuhkanmu. aku hanya ingin kamu sadar, dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah menyukaimu barang sedikit pun. aku hanya menganggapmu teman sekolahku. tidak lebih. jadi aku mohon, lepaskan obsesimu padaku. itu sangat menyiksaku. apalagi aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai. aku harap kamu mengerti dan menyudahi semuanya."papar adam panjang lebar, berusaha memberi pengertian pada sheila secara baik-baik.
"trus bagaimana dengan perjanjian ibumu dan ayahku?."sheila balik bertanya pada adam.
"aku sudah ada uangnya." jawab adam dengan mantap. adam mengeluarkan amplop uang 17 juta dan menyodorkannya pada sheila.
"kamu kira semudah ini mengakhiri perjanjian itu?, kamu kira ibumu hanya sekali datang ke rumah ayahku untuk meminjam uang?. entah sudah berapa utang ibumu pada keluargaku. apa aku harus meminta ayahku untuk menyita rumahmu dan mengusir keluargamu dari rumah sehingga mereka semua jadi gelandangan?. ancam sheila pada adam. adam mulai gusar, badannya bergetar mendengar ancaman sheila. adam makin menguatkan genggamannya pada tanganku.
"maksudmu gimana shel?." aku berusaha tetap tenang dan memperjelas maksud sheila.
sheila mengeluarkan HP-nya dan menelpon ayahnya.
" halo pah, ini ada adam mau bicara. dia mau menanyakan hutang ibunya pada papah." sheila memberikan HP-nya pada adam. adam tak bergeming.badannya makin bergetar. aku menyahut HP Sheila dan menaruh di kuping adam.
" halo dam, gimana, apa yang perlu saya jelaskan?" suara papanya sheila dari seberang sana.
"bapak berapa jumlah hutang keluarga saya pada keluarga bapak, dan apa yang sudah dijaminkan ibu pada bapak?." tanya adam pada papanya sheila.
" bentar saya cari catatannya dulu. jumlahnya 132 juta. itu sudah akumulasi pinjaman dari kamu SMA dan sampai buat sekolah adek-adekmu. itupun saya tidak memberi bunga karena bagaimanapun kalian tinggal di kecamatan yang saya pimpin. ibumu sudah menjaminkan serifikat rumah kalian. tapi karena perjanjian terakhir yang ibumu menyanggupi bahwa kamu akan menikahi sheila ketika sudah bekerja nanti. sertifikat rumah kalian akan saya kembalikan saat itu dan semua hutang akan saya anggap lunas. tapi kalo sekarang kan kalian baru semester satu. jadi, nikmati saja waktu kalian. dan jangan sungkan-sungkan kalo kamu butuh sesuatu. karena saya sudah berjanji akan membiayai kuliah dan kebutuhanmu sampai kamu lulus. tolong jaga sheila ya. ada lagi yang mau kamu tanyakan?"tanya papanya sheila dari seberang sana.
" tidak ada pak, terima kasih banyak." adam mengakhiri pembicaraanya dan memberikan hapenya ke sheila. badannya makin bergetar.
"udah dulu pa, makasih, nanti sheila hubungi papa lagi." sheila memutus telponnya.
" bagaimana dam?. apa kamu tetap akan memutus perjanjian itu?. konsekuensinya ibu dan adek-adekmu akan tinggal di jalanan. oke, silahkan berpikir lagi. aku kasih kamu waktu 1X24 jam buat memikirkan semuanya." sheila bangkit dan bermaksud meninggalkan kami. sebelum itu dia menggeser amplop uang disodorkan adam kepadanya.
" apa begitu caramu mengikat orang yang kamu cintai,tidakkah itu terlalu kejam?." aku berkata sarkatis. sheila berhenti mendengar kata-kataku.
"kenapa tidak?. kalo aku sudah berusaha meminta dia mencintaiku secara baik selalu gagal. kenapa tidak dengan cara begini. dia tidak mungkin bisa lari dariku lagi." sheila kemudian berlalu meninggalkan kami.
adam sudah tidak mampu berkata apa-apa. pandangannya sudah tidak fokus, badannya bergetar. dia shock hebat dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. aku mengambil amplop uang yang ditaruh sheila di depan adam dan membayar pesananku dan adam dan segera pergi dari cafe itu bersama adam tentunya. di sepanjang perjalanan menuju kosnya adam hanya diam dan pandangannya kosong. dia hanya mengikuti tuntunanku. aku membawa adam ke kosnya yang memang tidak terlalu jauh dari cafe tadi. aku menuntun sampai kamarnya dan membaringkan adam.kemudian menyelimutinya. badan adam masih bergetar. keringat dingin membanjiri tubuhnya. arif masuk ke kamar adam.
"kenapa dia?." arif penasaran dengan apa yang terjadi pada adam.
"sssstt, nggak apa-apa. keluarlah dulu biar adam bisa istirahat."aku mengusir arif dari kamar adam.
adam masih belum sadar dari keterkejutannya. dia masih diam dengan tatapan kosong dan badan bergetar. aku bermaksud meninggalkan adam supaya dia bisa istirahat. baru aku mau meninggalkan kamar tersebut. adam menahan tanganku.
" kenapa dam?. kamu butuh sesuatu?." aku menggenggam tangannya mencoba menenangkan dia.
"tolong jangan tinggalkan aku ." sekali lagi adam harus terpuruk dan sekali lagi aku harus melihat ini semua.
#bersambung#
Selasa, 05 Desember 2017
Senin, 04 Desember 2017
Waiting For You (Part 3)
Pagi menjelang, menampakkan matahari yang malu-malu nampak di ufuk timur. embun masih tebal menyelimuti kota Jogja. jam sudah mennjukkan 05.30. aku segera mengambil sepatu kets-ku dan bersiap olahraga lari keliling kompleks kosku. Aku berlari santai menghirup udara pagi yang masih bersih dari polusi. jalanan masih sepi. aku berniat menuju lembah UGM, karena disana tempatnya sejuk karena masih banyak pohon dan ada fasilitas jogging track yang memang sering digunakan mahasiswa untuk olahraga. aku berputar mengelilingi danau dan lumayan menguras energi. aku istirahat di bangku sekitar danau sambil menikmati pemandangan sekitarku.
tak terasa sudah satu bulan aku pacaran dengan Adam. dia sangat mengerti bagaimana memperlakukan aku dengan baik. dia begitu dewasa dibalik umurnya yang masih sebaya denganku. aku masih sering egois dibandingkan dengan dia. tapi dia selalu bisa meluluhlantahkan keegoisanku.
aku melamun sebentar membayangkan hari-hariku bersama Adam. aku tersenyum sendiri mengingatnya. aku berharap kebahagiaan ini bakal terus menghiasi hidupku. karena baru kali ini aku memberanikan untuk pacaran. setelah semasa SMA hanya aku habiskan untuk mengagumi cinta pertamaku.
"Hai manis, sendirian aja..senyum-senyum lagi..ntar banyak kumbang pada pingsan lho.." aku terkejut karena ada seseorang tiba-tiba merangkulku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahuku. aku menengok ke samping. ternyata adam yang sedang memelukku.
"adam!!!..kamu bikin kaget aja sih.."aku sedikit meninggikan nada bicaraku karena emang kesal dibuatnya. adam hanya terkekeh mendengarnya.
" Kamu ngapain senyam senyum tadi?..mikirin aku yaaa??..."Adam mulai usil menggodaku sampai pipiku merah dibuatnya. Aku hanya diam memalingkan wajahku sampai detak jantungku normal kembali. entah kenapa tiap dia datang tiba-tiba padaku detak jantungku jadi bekerja berlipat-lipat lebih cepat.
"jangan suka gitu ahh..balik yuuk.."aku menarik tangan Adam bermaksud mengajaknya pergi dari tempat itu. karena tempatnya mulai ramai. Adam nurut saja awalnya. berapa detik kemudian dia berlari mendahuluiku dan menarik tanganku. aku menurut saja, adam mengantarkan aku sampai kosku.
"kok nggak bilang kalo olahraga disitu?." tanyaku pada adam. selagi adam menuntunku untuk duduk di pos ronda depan kosku. adam hanya diam menatap lurus. tatapannya kosong membuatku berfikir dia pasti melamun.
" dam..adam." aku melambaikan tanganku didepan matanya untuk menyadarkan Adam.
" ohhh..iyaa..kenapa?." gugup adam bertanya balik padaku.
"kamu kenapa?..kok melamun tumben? kenapa ngga bilang kalo olahraga disitu?. tau gitu kan aku ajak bareng kamu. jadi, aku nggak sendirian kayak tadi." kataku pada adam.
" sory, tadi juga pengennya dadakan. lari lari lari. ehh sampainya kesitu." kata adam
" tumben kamu nggak fokus dam. jarang-jarang kamu lari tanpa tujuan gitu. biasanya mau kemanapun dan mau ngapain pun kamu selalu pikirkan dulu. apa kamu ada masalah?. kamu bisa bicara apapun padaku dam. kamu bisa minta bantuan apapun sama aku. ini kan fungsinya kita pacaran untuk mendukung satu sama lain. tak ada yang perlu disembunyikan." kataku panjang lebar. karena aku mulai mengkhawatirkan Adam.
" nggak apa-apa. nanti kalo aku sudah siap aku akan cerita segalanya sama kamu. kamu masuk ya.." adam memegang bahuku mencium dahiku dan berlari berlalu begitu saja. meninggalkanku dengan rasa penasaranku.
jam sudah menunjukkan pukul 09.00. aku sudah telat di jam mata kuliah pertamaku hari ini. aku berlari sampai kampus ternyata pintu ruang kuliah sudah ditutup sudah tidak boleh aa yang masuk. aku hanya mendesah pasrah. aku jalan menuju spot kesenanganku di perpustakaan fakultas. ternyata sudah ada yang menempati. aku makin kehilangan moodku. aku berjalan menuju fakultasnya Adam. aku duduk di kantin fakultas hukum. aku mengeluarkan HP-ku bermaksud menelpon Adam. baru aku memencet nomernya dan menaruh hp-ku di kuping. aku melihat adam berlari melambaikan tangan pada seseorang. aku tidak jadi menelponnya. aku berlari mengikuti Adam bermaksud menghampirinya.
" yang..aku disini.." cewek itu melambaikan tangan ke Adam. dan apa yang aku dengar tadi. dia memanggil Adam dengan sebutan "yang".
"sayang maksudnya kah?apa hubungan cewek itu dengan Adam? kenapa dia memanggil adam sayang?." hatiku bertanya-tanya tak ada habisnya. aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya. aku bersembunyi di balik tembok tak jauh dari posisi adam berdiri bercengkrama dengan cewek itu. Adam terlihat kaku disamping cewek itu. dia seperti tidak nyaman. tapi cewek itu bertingkah manja padanya dan beberapa detik kemudian tangannya cewek itu bergelayut manja di lengan Adam.
mataku perih melihat pemandangan didepanku. aku hanya bisa berdiri mematung tidak percaya. air mataku mulai menetes dan aku hanya bisa bisa dalam kebisuan sampai ada yang menabrakku sampai aku jatuh tersungkur.
" maaf maaf." kata seseorang yang menabrakku tadi. dia hanya membantuku berdiri dan segera berlalu.
adam menengok mencari asal kericuhan yang sesaat terjadi di dekatnya. dia melihat ke arahku. dia kaget melihatku. dia segera melepat tautan tangan cewek tadi dan berlari kearahku. aku hanya diam menatapnya. dia menghampiriku dan menarik tanganku menjauhi tempat itu. sampai tempat yang agak sepi adam berhenti berbalik menghadapku dan kemudian memelukku. aku hanya diam berdiri dalam pelukannya tanpa berniat membalas pelukannya. aku masih menangis mencoba mencerna apa yang terjadi sebelumnya.
" marahlah..kalo kamu mau marah padaku. pukullah aku sesukamu. maki aku. tampar aku. kalo perlu bunuh aku. tapi aku mohon bicaralah. jangan hanya diam menangis begini. jangan buat aku makin merasa bersalah." adam berkata dengan nada bergetar pertanda kalo dia juga ikut menangis. aku menarik tubuhku dari pelukannya. aku melihat sorot kesakitan di matanya seperti dia tidak mau melakukan hal ini. hal ini juga membuatnya terluka. hal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan padaku. dia menduakanku. tapi memang kenyataannya begitu. Adam meneteskan air matanya. melihat dia menangis membuat kesadaranku kembali dari ketidakpercayaan dengan kenyataan yang ada. aku melihat Adamku menangis dan terlihat lemah. baru kali ini adam memperlihatkan sisi lemahnya selama satu bulan pacaran. aku tidak sanggup melihatnya. aku menghapus air matanya. dalam sekejap adam menarikku dalam pelukannya lagi. memelukku posesif makin erat. menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. membuatku merasa nyaman menghirup aroma maskulinnya selalu membuat hatiku tenang. aku membalas pelukannya dan makin menenggelamkan wajahku di dadanya. bahunya bergetar pertanda dia masih menangis. aku masih diam menikmati kenyamanan pelukannya. karena aku tiba-tiba menyadari sesuatu. aku merasa harus segera melepaskan lelaki ini. melepaskan seseorang yang berharga di hidupku. entah apapun alasannya nanti aku tidak bisa bersama laki-laki ini. karena yang telah dia lakukan apapun alasannya dia salah, dia sudah menghianati hubungan kami. dan aku paling tidak bisa mentolerir kesalahan itu.
" tinggalkan aku dam!!." aku berkata dengan tegas sambil melepaskan pelukanku dan menarik tubuhku dari jangkauannya. Adam terlihat shock dengan apa yang aku katakan. Dia hanya berdiri mematung. Sesaat kemudian dia roboh, dia berlutut.
"Apakah harus seperti ini?, tolong dengarkan dulu." adam mencoba peruntungan terakhirnya untuk mempertahankan aku disisinya. Aku hanya diam, aku sakit melihat adamku lemah seperti ini. Dia selalu ceria, bawel dan penuh semangat. Tapi hari ini dia jatuh ke titik terlemahnya. Dia mencoba menjelaskan semuanya dan aku hanya memberi dia kesempatan.
" dia sheila, dia anak pak camat, dia teman smp sekaligus teman sma ku. Dia menyukaiku sejak smp. Dia berulang kali menyatakan perasaannya, tapi aku tidak bisa menerimanya. Sebelum ujian nasional aku diam-diam mengambil tes universitas dan beasiswa. Aku diterima disini, tapi ujian beasiswaku tidak lolos. Ketika 3 hari sebelum waktu daftar ulang tiba, aku bicara dengan ibuku. Ibuku hanya janda dengan anak 3, beliau jualan pecel kalau pagi, siang malam dia menjadi buruh cuci. aku pikir ibuku akan keberatan dengan kuliahku. tapi justru sebaliknya. Ibuku bilang bahwa beliau akan mendukung apapun yang saya impikan, karena aku anak pertama. Aku harapan terbesar keluarga kecil kami. Ibu bilang berapapun biayanya beliau akan usahakan. Aku memberikan rincian biaya kuliah awal dan kos. Waktu itu aku perkirakan sekitar 13-15 juta. Ibu menyanggupinya juga beliau berjanji akan memberikan uang bulanan tapi tidaklah besar. aku bersyukur mendengarnya. 3 hari kemudian ketika aku mau berangkat daftar ulang ibu memberikan aku uang 17 juta katanya buat pegangan sekalian untuk beberapa bulan depan. ibu bilang uang itu hasil menabung ibu selama beberapa tahun. aku lega mendengarnya karena ibu tidak hutang atau menggadaikan sesuatu. aku daftar ulang, bayar kos setahun dan sisanya aku gunakan untuk keperluan sehari-hari sisanya tidak banyak. tapi kemarin siang sheila mendatangiku di kos. katanya ada hal penting yang harus dia bicarakan. sheila bilang dia ingin menagih janjiku menjadikan dia calon istriku. aku kaget mendengarnya, aku tidak pernah berjanji apa-apa sama dia. dia menjelaskan dari awal kalo uang yang diberikan ibuku adalah hasil meminjam dari ayahnya. karena sheila melihat ibuku mohon-mohon dan menangis saat itu pada ayahnya dia tidak tega. dia meminta ayahnya membantu ibuku dengan syarat aku harus mau menjadi suaminya nanti setelah aku bekerja karena sheila memang sudah lama mengincarku. ayahnya sheila berjanji akan membiayai semua biaya kuliahku dan kebutuhanku. ibuku tidak punya pilihan lain selain menyanggupinya. karena aku tidak percaya aku menelpon ibuku untuk memastikan. tapi ketika aku tanyakan itu beliau hanya menangis dan membenarkan. aku memutus sepihak hubungan telpon kami dan aku juga masih berpikir untuk jalan keluarnya sampai sekarang. tapi aku masih buntu. jadi sekarang aku tidak punya pilihan lain. aku harus pacaran dengan sheila mulai kemarin. aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi aku tidak punya jalan lain saat ini." adam menangis bahunya gemetar dia makin menunduk. aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan dengan masalah ini. aku tidak mau melihat lelakiku lemah seperti ini. aku juga ikut berlutut di hadapan adam. akupun juga tidak bisa membendung tangisanku. dengan terisak aku menggenggam tangan adam. entah apa yang aku pikirkan saat itu. aku melepaskan tangan itu dan meninggalkannya.
adam tetap dengan possinya seperti dan tidak mencoba mengejarku saat aku meninggalkannya. aku hanya menangis saat itu aku hanya ingin pulang. aku pulang ke kosku.
beberapa hari aku tidak semangat menjalani hari-hariku kuliah. adam tidak menghubungiku begitupun sebaliknya. aku merindukannya tapi aku mau memberi waktu pada adam untuk berpikir sendiri. aku tidak membenarkan perbuatannya tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. aku bingung dengan nasib hubungan kami.
entahlah semoga waktu segera menjawab semuanya.
tak terasa sudah satu bulan aku pacaran dengan Adam. dia sangat mengerti bagaimana memperlakukan aku dengan baik. dia begitu dewasa dibalik umurnya yang masih sebaya denganku. aku masih sering egois dibandingkan dengan dia. tapi dia selalu bisa meluluhlantahkan keegoisanku.
aku melamun sebentar membayangkan hari-hariku bersama Adam. aku tersenyum sendiri mengingatnya. aku berharap kebahagiaan ini bakal terus menghiasi hidupku. karena baru kali ini aku memberanikan untuk pacaran. setelah semasa SMA hanya aku habiskan untuk mengagumi cinta pertamaku.
"Hai manis, sendirian aja..senyum-senyum lagi..ntar banyak kumbang pada pingsan lho.." aku terkejut karena ada seseorang tiba-tiba merangkulku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahuku. aku menengok ke samping. ternyata adam yang sedang memelukku.
"adam!!!..kamu bikin kaget aja sih.."aku sedikit meninggikan nada bicaraku karena emang kesal dibuatnya. adam hanya terkekeh mendengarnya.
" Kamu ngapain senyam senyum tadi?..mikirin aku yaaa??..."Adam mulai usil menggodaku sampai pipiku merah dibuatnya. Aku hanya diam memalingkan wajahku sampai detak jantungku normal kembali. entah kenapa tiap dia datang tiba-tiba padaku detak jantungku jadi bekerja berlipat-lipat lebih cepat.
"jangan suka gitu ahh..balik yuuk.."aku menarik tangan Adam bermaksud mengajaknya pergi dari tempat itu. karena tempatnya mulai ramai. Adam nurut saja awalnya. berapa detik kemudian dia berlari mendahuluiku dan menarik tanganku. aku menurut saja, adam mengantarkan aku sampai kosku.
"kok nggak bilang kalo olahraga disitu?." tanyaku pada adam. selagi adam menuntunku untuk duduk di pos ronda depan kosku. adam hanya diam menatap lurus. tatapannya kosong membuatku berfikir dia pasti melamun.
" dam..adam." aku melambaikan tanganku didepan matanya untuk menyadarkan Adam.
" ohhh..iyaa..kenapa?." gugup adam bertanya balik padaku.
"kamu kenapa?..kok melamun tumben? kenapa ngga bilang kalo olahraga disitu?. tau gitu kan aku ajak bareng kamu. jadi, aku nggak sendirian kayak tadi." kataku pada adam.
" sory, tadi juga pengennya dadakan. lari lari lari. ehh sampainya kesitu." kata adam
" tumben kamu nggak fokus dam. jarang-jarang kamu lari tanpa tujuan gitu. biasanya mau kemanapun dan mau ngapain pun kamu selalu pikirkan dulu. apa kamu ada masalah?. kamu bisa bicara apapun padaku dam. kamu bisa minta bantuan apapun sama aku. ini kan fungsinya kita pacaran untuk mendukung satu sama lain. tak ada yang perlu disembunyikan." kataku panjang lebar. karena aku mulai mengkhawatirkan Adam.
" nggak apa-apa. nanti kalo aku sudah siap aku akan cerita segalanya sama kamu. kamu masuk ya.." adam memegang bahuku mencium dahiku dan berlari berlalu begitu saja. meninggalkanku dengan rasa penasaranku.
jam sudah menunjukkan pukul 09.00. aku sudah telat di jam mata kuliah pertamaku hari ini. aku berlari sampai kampus ternyata pintu ruang kuliah sudah ditutup sudah tidak boleh aa yang masuk. aku hanya mendesah pasrah. aku jalan menuju spot kesenanganku di perpustakaan fakultas. ternyata sudah ada yang menempati. aku makin kehilangan moodku. aku berjalan menuju fakultasnya Adam. aku duduk di kantin fakultas hukum. aku mengeluarkan HP-ku bermaksud menelpon Adam. baru aku memencet nomernya dan menaruh hp-ku di kuping. aku melihat adam berlari melambaikan tangan pada seseorang. aku tidak jadi menelponnya. aku berlari mengikuti Adam bermaksud menghampirinya.
" yang..aku disini.." cewek itu melambaikan tangan ke Adam. dan apa yang aku dengar tadi. dia memanggil Adam dengan sebutan "yang".
"sayang maksudnya kah?apa hubungan cewek itu dengan Adam? kenapa dia memanggil adam sayang?." hatiku bertanya-tanya tak ada habisnya. aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya. aku bersembunyi di balik tembok tak jauh dari posisi adam berdiri bercengkrama dengan cewek itu. Adam terlihat kaku disamping cewek itu. dia seperti tidak nyaman. tapi cewek itu bertingkah manja padanya dan beberapa detik kemudian tangannya cewek itu bergelayut manja di lengan Adam.
mataku perih melihat pemandangan didepanku. aku hanya bisa berdiri mematung tidak percaya. air mataku mulai menetes dan aku hanya bisa bisa dalam kebisuan sampai ada yang menabrakku sampai aku jatuh tersungkur.
" maaf maaf." kata seseorang yang menabrakku tadi. dia hanya membantuku berdiri dan segera berlalu.
adam menengok mencari asal kericuhan yang sesaat terjadi di dekatnya. dia melihat ke arahku. dia kaget melihatku. dia segera melepat tautan tangan cewek tadi dan berlari kearahku. aku hanya diam menatapnya. dia menghampiriku dan menarik tanganku menjauhi tempat itu. sampai tempat yang agak sepi adam berhenti berbalik menghadapku dan kemudian memelukku. aku hanya diam berdiri dalam pelukannya tanpa berniat membalas pelukannya. aku masih menangis mencoba mencerna apa yang terjadi sebelumnya.
" marahlah..kalo kamu mau marah padaku. pukullah aku sesukamu. maki aku. tampar aku. kalo perlu bunuh aku. tapi aku mohon bicaralah. jangan hanya diam menangis begini. jangan buat aku makin merasa bersalah." adam berkata dengan nada bergetar pertanda kalo dia juga ikut menangis. aku menarik tubuhku dari pelukannya. aku melihat sorot kesakitan di matanya seperti dia tidak mau melakukan hal ini. hal ini juga membuatnya terluka. hal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan padaku. dia menduakanku. tapi memang kenyataannya begitu. Adam meneteskan air matanya. melihat dia menangis membuat kesadaranku kembali dari ketidakpercayaan dengan kenyataan yang ada. aku melihat Adamku menangis dan terlihat lemah. baru kali ini adam memperlihatkan sisi lemahnya selama satu bulan pacaran. aku tidak sanggup melihatnya. aku menghapus air matanya. dalam sekejap adam menarikku dalam pelukannya lagi. memelukku posesif makin erat. menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. membuatku merasa nyaman menghirup aroma maskulinnya selalu membuat hatiku tenang. aku membalas pelukannya dan makin menenggelamkan wajahku di dadanya. bahunya bergetar pertanda dia masih menangis. aku masih diam menikmati kenyamanan pelukannya. karena aku tiba-tiba menyadari sesuatu. aku merasa harus segera melepaskan lelaki ini. melepaskan seseorang yang berharga di hidupku. entah apapun alasannya nanti aku tidak bisa bersama laki-laki ini. karena yang telah dia lakukan apapun alasannya dia salah, dia sudah menghianati hubungan kami. dan aku paling tidak bisa mentolerir kesalahan itu.
" tinggalkan aku dam!!." aku berkata dengan tegas sambil melepaskan pelukanku dan menarik tubuhku dari jangkauannya. Adam terlihat shock dengan apa yang aku katakan. Dia hanya berdiri mematung. Sesaat kemudian dia roboh, dia berlutut.
"Apakah harus seperti ini?, tolong dengarkan dulu." adam mencoba peruntungan terakhirnya untuk mempertahankan aku disisinya. Aku hanya diam, aku sakit melihat adamku lemah seperti ini. Dia selalu ceria, bawel dan penuh semangat. Tapi hari ini dia jatuh ke titik terlemahnya. Dia mencoba menjelaskan semuanya dan aku hanya memberi dia kesempatan.
" dia sheila, dia anak pak camat, dia teman smp sekaligus teman sma ku. Dia menyukaiku sejak smp. Dia berulang kali menyatakan perasaannya, tapi aku tidak bisa menerimanya. Sebelum ujian nasional aku diam-diam mengambil tes universitas dan beasiswa. Aku diterima disini, tapi ujian beasiswaku tidak lolos. Ketika 3 hari sebelum waktu daftar ulang tiba, aku bicara dengan ibuku. Ibuku hanya janda dengan anak 3, beliau jualan pecel kalau pagi, siang malam dia menjadi buruh cuci. aku pikir ibuku akan keberatan dengan kuliahku. tapi justru sebaliknya. Ibuku bilang bahwa beliau akan mendukung apapun yang saya impikan, karena aku anak pertama. Aku harapan terbesar keluarga kecil kami. Ibu bilang berapapun biayanya beliau akan usahakan. Aku memberikan rincian biaya kuliah awal dan kos. Waktu itu aku perkirakan sekitar 13-15 juta. Ibu menyanggupinya juga beliau berjanji akan memberikan uang bulanan tapi tidaklah besar. aku bersyukur mendengarnya. 3 hari kemudian ketika aku mau berangkat daftar ulang ibu memberikan aku uang 17 juta katanya buat pegangan sekalian untuk beberapa bulan depan. ibu bilang uang itu hasil menabung ibu selama beberapa tahun. aku lega mendengarnya karena ibu tidak hutang atau menggadaikan sesuatu. aku daftar ulang, bayar kos setahun dan sisanya aku gunakan untuk keperluan sehari-hari sisanya tidak banyak. tapi kemarin siang sheila mendatangiku di kos. katanya ada hal penting yang harus dia bicarakan. sheila bilang dia ingin menagih janjiku menjadikan dia calon istriku. aku kaget mendengarnya, aku tidak pernah berjanji apa-apa sama dia. dia menjelaskan dari awal kalo uang yang diberikan ibuku adalah hasil meminjam dari ayahnya. karena sheila melihat ibuku mohon-mohon dan menangis saat itu pada ayahnya dia tidak tega. dia meminta ayahnya membantu ibuku dengan syarat aku harus mau menjadi suaminya nanti setelah aku bekerja karena sheila memang sudah lama mengincarku. ayahnya sheila berjanji akan membiayai semua biaya kuliahku dan kebutuhanku. ibuku tidak punya pilihan lain selain menyanggupinya. karena aku tidak percaya aku menelpon ibuku untuk memastikan. tapi ketika aku tanyakan itu beliau hanya menangis dan membenarkan. aku memutus sepihak hubungan telpon kami dan aku juga masih berpikir untuk jalan keluarnya sampai sekarang. tapi aku masih buntu. jadi sekarang aku tidak punya pilihan lain. aku harus pacaran dengan sheila mulai kemarin. aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi aku tidak punya jalan lain saat ini." adam menangis bahunya gemetar dia makin menunduk. aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan dengan masalah ini. aku tidak mau melihat lelakiku lemah seperti ini. aku juga ikut berlutut di hadapan adam. akupun juga tidak bisa membendung tangisanku. dengan terisak aku menggenggam tangan adam. entah apa yang aku pikirkan saat itu. aku melepaskan tangan itu dan meninggalkannya.
adam tetap dengan possinya seperti dan tidak mencoba mengejarku saat aku meninggalkannya. aku hanya menangis saat itu aku hanya ingin pulang. aku pulang ke kosku.
beberapa hari aku tidak semangat menjalani hari-hariku kuliah. adam tidak menghubungiku begitupun sebaliknya. aku merindukannya tapi aku mau memberi waktu pada adam untuk berpikir sendiri. aku tidak membenarkan perbuatannya tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. aku bingung dengan nasib hubungan kami.
entahlah semoga waktu segera menjawab semuanya.
Jumat, 01 Desember 2017
aku menunggumu
aku menunggumu
karena hanya itu yang saat bisa aku lakukan
aku tidak tau siapa kamu
aku tidak mengenal siapa namamu
darimana kamu berasal
apa latarbelakangmu
tetapi tetap aku menunggumu
hadiah terbaik dari tuhan
yang akan menemaniku setiap saat nantinya
menjadi alasanku untuk terus hidup
menjadi pusat magnetku
menjadi penopang hidupku
menjadi pendidik masa depanku
menjadi warna dalam sisa kehidupanku
i am stiil waiting for you
my future husband
the man who became a gift from god
karena hanya itu yang saat bisa aku lakukan
aku tidak tau siapa kamu
aku tidak mengenal siapa namamu
darimana kamu berasal
apa latarbelakangmu
tetapi tetap aku menunggumu
hadiah terbaik dari tuhan
yang akan menemaniku setiap saat nantinya
menjadi alasanku untuk terus hidup
menjadi pusat magnetku
menjadi penopang hidupku
menjadi pendidik masa depanku
menjadi warna dalam sisa kehidupanku
i am stiil waiting for you
my future husband
the man who became a gift from god
mentariku
entah, sudah berapa lama aku mengubur diriku dalam kegelapan ini.
menghindari kejamnya dunia luar
lari dari hingar bingar kehidupan
aku menyendiri dalam kesunyian
aku lari dalam pelukan kesendirian
tapi kesendirian terlalu membuatku nyaman
sehingga aku lupa apa tujuanku untuk mimpi-mimpiku
sudah saatnya aku melepaskan kesendirian dan kesunyian meskipun kadang aku akan lari kesana lagi
kan kusapa kembali mentariku
menghindari kejamnya dunia luar
lari dari hingar bingar kehidupan
aku menyendiri dalam kesunyian
aku lari dalam pelukan kesendirian
tapi kesendirian terlalu membuatku nyaman
sehingga aku lupa apa tujuanku untuk mimpi-mimpiku
sudah saatnya aku melepaskan kesendirian dan kesunyian meskipun kadang aku akan lari kesana lagi
kan kusapa kembali mentariku
waiting for you (part 2)
aku duduk di bawah pohon di sayap timur. aku membuka tasku dan mengambil botol minumanku bermaksud meminumnya. tapi tiba-tiba ada yang merebutnya dan meminumnya sampai habis. aku hanya cemberut dibuatnya. tapi sepertinya aku mengenalnya. selesai dia minum dan menutup botolku dia menunduk dan mengembalikannya padaku. aku masih diam terpaku dibuatnya. dia kemudian tersenyum. aku tidak pernah melupakan pemilik senyuman itu.
“adam?”. sapaku antara percaya tidak percaya aku bertemu lagi dengannya. sudah 3 bulan sejak pertemuan pertama kami. meskipun kami satu universitas, tapi dengan besarnya universitas ini sangat mustahil bisa bertemu kalau tidak satu fakultas atau organisasi.
” hai, ngapain disini? masih rapi lagi. baru pulang kuliah?”. tanyanya padaku sambil bergerak duduk disampingku.
“heem”. jawabku lemas.
” nih minum dulu”. dia mengambil botol minum dari tas pinggangnya dan memberikannya.
” tuh kamu bawa minum. kenapa ngrebut minumku?dasar!”. aku meraih botol minumnya dengan kasar dan meminumnya hingga separuh botol.
“aku suka menggodamu, apalagi sampai kamu manyun begitu. lucu kayak bebek”. dia malah tertawa terpingkal-pingkal melihatku cemberut.
” udah..udah.. baru juga ketemu lagi. udah usil aja”. kataku menghentikan tawanya. dia berhenti tertawa dan tersenyum kecil. aku menanyakan tentang kuliahnya begitupun sebaliknya. dia tetap sama bawel tapi seru. aku tidak terlalu mendengarkan apa yang adam katakan. tapi aku hanya memperhatikan bagaimana cara dia bicara dan tersenyum. membuat otakku tidak bisa bekerja dengan baik.
“waaa”. adam mendekatkan wajahnya tiba-tiba kearahku untuk mengagetkanku. aku langsung memundurkan wajahku.
” kamu ngapain sih dam?”. aku mendorong bahunya mundur.
” aku dah ngomong panjang lebar tapi kamunya malah nglamun aja. jangan banyak nglamun kesambet ntar”. adam agak kesal karena aku tidak memperhatikannya.
“maaf, pulang yuk!, capek nih”. aku berniat berdiri mau pulang. tapi tiba-tiba tanganku ditarik adam dan membuatku duduk kembali.
” ada yang harus aku omongin sama kamu”. adam memegang kedua bahuku dan membuatku berhadapan langsung dengannya.
“aku suka sama kamu vin. aku tau kita baru kenal. aku 3 bulan ini selalu berusaha mencari kamu. dateng ke fakultasmu, nongkrong di daerah kosmu karena memang aku tidak tau dimana alamat tepat kamu kos. dan sekarang aku menemukanmu disini. aku tidak mau kamu lepas dari jangkauanku lagi”. adam terus memandangku menanti jawabanku. aku hanya bingung meskipun aku juga suka padanya sejak awal kami bertemu. tapi kami baru kenal. aku belum tau karakternya begitupun sebaliknya.
” kalopun aku jawab iya, apakah ini benar?. tidakkah kamu mau mencoba mengenal karakterku dulu?. begitupun aku juga ingin mengenalmu lbh dekat lagi”. aku menunggu jawaban adam.
“kita bisa pacaran dulu kan?, agar kamu hanya fokus ke aku”. adam mencoba meyakinkanku.
aku memandang kedua mata coklatnya. aku hanya melihat kesungguhan dan ketulusannya. tidak lama kemudian aku mengangguk mengiyakan permintaannya. dia tersenyum lebar dan memelukku. aku merasakan kenyamanan dan aku balas memeluknya.
” adam no hp mu berapa?”.adam melepaskan pelukannya sambil tertawa kecil.
aku ikut tersenyum. kemudian kami saling bertukar nomer hp. adam berdiri dan menawarkan tangannya padaku. aku menyambutnya. hari sudah mulai gelap. adam mengantarkanku sampai kos. dan kami berpisah.
takdir memang tidak bisa ditebak. bagaimana bisa aku pacaran dengan orang yang bahkan baru dua kali aku temui. tapi aku memang sudah suka dengan adam sejak awal.
siapa sangka adam yang baru aku temui di perjalanan pulang kampung. dan kami dipertemukan lagi untuk pacaran.
#bersambung#
waiting for you Part 1
” aku adam. Adam Renaldi. Aku kuliah di fakultas hukum ugm di jogja sini. Kamu kuliah di jogja juga?mau pulkam ya?asli mana? Kalo aku Madiun”. Katanya panjang lebar tanpa aku tanya.
“Aku vina, kuliah juga di jogja dan mau pulang ke Madiun juga”. Jawabku dengan malas. Tapi tetap memasang wajah ramah.
” wah sama dong!!.aku turun di maospati. Kamu turun dimana?. Oiya kamu jurusan apa dan kuliah dimana di jogja?”. Orang di sebelahku ini masih saja antusias bertanya. Padahal aku hanya ingin suasana tenang dan tidur. Tapi dia sudah berniat baik mengajakku berkenalan dan bicara. Alangkah jahatnya diriku kalau aku harus membalasnya dengan kemarahan.
“Aku di mipa di ugm juga. Aku turun setelahmu. Tolong ya, aku mau tidur dulu. Kalo mau ngobrol tolong ajak yang lain saja”. Aku berusaha menjawab seramah mungkin meskipun nadanya ketus.
” ow maaf, aku hanya senang mendapat kenalan baru. Aku akan diam. Maaf!!”. Jawabnya dengan menunjukkan mimik muka merasa bersalah.
Sekarang kondisinya jadi hening. Hanya suara kenek bis saja.
Hari ini aku sedang perjalanan mau pulkam. Aku tiap jumat selalu pulkam. Karena aku memang tidak pernah tinggal jauh dari rumah. Tapi kehidupan kuliah memaksaku untuk hidup mandiri. Tapi karena aku masih semester awal. Jadi beginilah tiap akhir pekan selalu pulkam.
Setelah tadi acaraku mau tidur sempat tertunda. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang. Aku memang suka tidur ketika dalam perjalanan jauh. Untuk menghindari mabuk perjalanan. Karena kalau aku hanya diam aku akan mudah mabuk. Aku mulai menyandarkan kepalaku di bantalan jendela dan menutup mataku. Aku memang terbiasa tidur di bis posisi seperti ini untuk menghindari menyandar pada orang lain.
Bis Mulai melaju karena semua kursi sudah penuh. Selama bis melaju aku beberapa terbangun dan membenarkan posisi tidurku. Tak jarang kepalaku terbentur. Tapi itu tidak terlalu menggangguku karena aku bisa melanjutkan tidurku lagi.
Tidur dibawah ac bis yg lgsg mengarah padaku membuatku merasa kedinginan. Tapi tak lama badanku menjadi lebih hangat. Aku merasa ada yang memindahkan kepalaku tapi sekarang lebih nyaman. Mungkin karena kepalaku menyandar ke orang lain jadi dia memindahkannya. Aku hanya cuek dan melanjutkan tidurku.
” Solo..solo..solo”. Teriak sang kenek bis.
Aku terbangun dan melihat-lihat keadaan sekitarku. Sudah sampai terminal solo ternyata. Aku melihat ke badanku. Dan aku terkejut ada jaket seseorang yang menutupi badan dan kedua tanganku. Dan aku baru sadar barusan aku tidur menyandar pada orang sebelahku. Pantas saja aku tidak merasa kedinginan tadi. Padahal lubang ac diatasku lupa belum aku tutup. Aku melihat ke orang yang di sebelahku. Dia tetap tertidur meskipun ramai banyak penjual asongan teriak-teriak menawarkan jualannya. Aku mengamati wajahnya yang damai saat tertidur. Dia tampan, memiliki kulit bersih dan hidung yang tidak terlalu mancung. Bibirnya yang pink seperti bibir perempuan dan terdapat lesung pipi tipis di kedua pipinya. Membayangkan dia tersenyum pasti sangat manis.
Tanpa sadar aku sudah mengagumi wajah orang di sebelahku ini. Orang yang baru ku kenal tadi. Yang aku pikir tadi cowok bawel dan menyebalkan. Tapi sekarang aku mengagumi ketampanannya.
Dia menggeliatkan tubuhnya dan mengucek-ngucek kedua matanya.
” oh, kamu sudah bangun?”. Tanyanya padaku.
” iya mas eee. Maaf tadi siapa namanya?”. Tanyaku padanya karena memang aku lupa namanya.
” adam renaldi. Panggil aja adam, nggak usah pake mas”. jawab orang disebelahku dengan senyum lebarnya
"oh tuhan sungguh senyumnya manis banget. bikin hatiku meleleh. tolong aku tuhan. jangan sampe aku bersikap bodoh didepannya."ucapku dalam hati.aku mencoba menetralkan detak jantungku.
aku hanya membalasnya dengan senyuman seramah mungkin. jadi merasa bersalah karena di awal perjalanan tadi mengabaikannya.
” maaf ya mas, kalo tadi nggak sopan sama mas. aku hanya ngantuk tadi”. kataku tulus meminta maaf padanya.
“nggak pa pa, mungkin aku yang terlalu semangat ngajak kenalannya”. jawabnya sambil terkekeh pelan.
selama perjalanan kami ngobrol banyak. dari kuliah kami yang ternyata satu angkatan. rumah kami yang ternyata tidak terlalu jauh. kos kami di jogja. dan cerita kehidupan di kos kami. tidak terasa bis sudah melaju kencang dan hampir sampai dengan tempat adam turun. dia bersiap maju ke bangku terdepan agar bisa langsung turun begitu sampai. sebelum pindah ke bangku depan dia berpamitan dan menjabat tanganku.
” senang bertemu denganmu, sampai ketemu lagi”. pamit adam padaku.
aku hanya mengawasi gerak geriknya. melihat dia turun dan melambaikan tangan. sebentar lagi giliran aku turun dari bis.
setelah turun dari bis aku menuju halte terdekat untuk menunggu jemputan. karena tidak ada angkutan ke desaku setiap kali pulang aku selalu dijemput kakakku di halte ini. karena bis antar propinsi hanya lewat sini saja. sambil menunggu kakakku datang. aku memikirkan pertemuanku dengan adam barusan. aku berharap bisa bertemu dengannya lagi. dia orang yang asyik dan enak buat jadi teman. sayangnya kami tidak sempat bertukar nomer hape. aku menggelengkan kepalaku karena aku baru sadar kalau kakakku sudah datang. aku naik ke boncengan motornya siap menuju rumah.
#bersambung#
Langganan:
Postingan (Atom)