Jumat, 13 Mei 2016

cerpenku: The Pure Love



 “Tuuuutttttt,,,,, “Suara kereta memecah keramaian didalam rangkaian gerbong berjalan ini, detakan  roda besi yang berputar diatas baja panjang tak berujung menemani perjalanan ku, menuju kota kelahiranku. Dengan sahabatku yang menjadi sandaranku. Semakin membuat kantukku sudah tak tertahankan.

“Lambang, nanti bangunin aku ya kalo sudah sampai”. kataku pada Herlambang sahabatku. Karena rasa kantukku sudah tidak bisa kutahan.
“iya Nisa, kamu tidur ya, perjalanan kita juga masih jauh, setengahnya juga belum”. jawab herlambang dengan suaranya yang berat tapi penuh kelembutan membuatku akhirnya jatuh tertidur.

Aku Annisa mahasiswi pariwisata di Universitas Gajah Mada. Dan herlambang adalah sahabatku sahabatku dari kecil. Dia mengikutiku kuliah di jogja di jurusan arsitek di universitas yang sama denganku. Katanya alasannya biar bisa menjagaku. Aku selalu nyaman dengan herlambang. Dia selalu menjadi sosok sahabat sekaligus kakak buatku. Sehingga aku sangat menyayanginya lebih dari kakakku sendiri. Aku punya seorang kakak laki-laki. Namanya Arlan. Dan dia kuliah di Madiun di tempat asalku. Tapi dia sangat cuek dan usil. Alamat aku tidak mau dekat-dekat kakakku. Meskipun begitu aku tetap menyayanginya.
“Nis..Nis..Nisa.. NISA”. Panggil Herlambang dengan setengah berteriak membuatku kaget dan pusing karenan dibangunkan secara tiba-tiba.
“nggak bisa lebih lembut apa?, kenapa?, sudah sampai po?”. Gerutuku sambil ngucek-ngucek mata berharap bisa menghilangkan rasa kantukku yang masih menggantung.
“maaf, stasiun berikutnya kamu turun. Kamu dijemput siapa?”. Tanya Herlambang padaku dengan lembut. Tapi suara lembutnya tidak bisa mencegahku untuk panik seketika.
“aku lupa ngabari orang rumah kalo aku pulang hari ini”. Cerocosku dengan muka panik, bingung dan sambil mikir bagaimana aku jalan ke rumah.
Aku tinggal di pedesaan. Sedangkan herlambang tinggal di kota madiunnya. Karena dulu aku satu sekolah SD dengannya, sehingga kami bisa bersahabat. Aku dari jogja berangkat sore sehingga sampai madiun sudah larut malam. Minggu ini long weekend. Aku hanya tiba-tiba mau pulang mumpung libur 4 hari. Itupun sebenarnya aku mau pulang sendiri. Entah bagaimana Herlambang tau dan sudah menyusulku di Stasiun Lempuyangan. Jadinya aku pulkam bareng Herlambang.
“Lambang aku pulangnya gimana dong?”panikku sambil menarik-narik tangan Herlambang.
“aku lupa ngabari kakakku, dan kalo aku nunggu kakakku kelamaan. Aku takut nunggu sendirian di Stasiun. Perjalanan rumah ke stasiun bisa satu jam”. Aku menunduk lesu sambil memikirkan cara untuk pulang dari stasiun ke rumah. Karena kondisi sudah malam. Tidak mungkin masih ada angkutan umum ke arah desaku. Aku sudah mentok dan sudah pasrah.
Ckiit..ckiittt. suara rem kereta menandakan kereta sudah mau berhenti. Tiba-tiba Herlambang menarik tanganku. Menyadarkan lamunanku tentang bagaimana caranya aku pulang.
“ayo turun”. Herlambang mengajakku turun dari kereta. Dia menarik tanganku lembut dan membawakan tasku. Aku hanya bengong karena masih shock dengan perbuatannya. Aku hanya bingung kok Herlambang ikut aku turun. Padahal seharusnya dia turun di stasiun berikutnya yang lebih dekat rumahnya.
“Lambang, kamu ngapain ikut turun sama aku?, kan kamu harusnya turun di stasiun Madiun bukan disini?”. Aku menanti jawaban Herlambang. Tapi dia hanya diam dan terus menggenggam tanganku keluar stasiun. Dia melepaskan tanganku sebentar dan  mencari taksi terdekat. Setelah selesai tawar-menawar dengan sopir taksi dia kembali menarik tanganku dan memasukkan di bangku belakang taksi.
“Lambang, aku tidak ak....”. Aku mau protes. Tapi belum selesai pintu taksi sudah tertutup. Dan yang lebih mengejutkan lagi aku melihat Herlambang lari memutar belakang taksi, membuka pintu taksi dan duduk di sebelahku.
“kamu mau ngapain?, kamu mau ikut aku pulang?”. Tanyaku dengan mata melotot heran.
“iya, entah kenapa aku kangen gangguin mas Arlan”. Jawab Herlambang. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di sandaran mobil.
“arahkan taksinya, aku capek, mau tidur sebentar”. Kata Herlambang. Dan bersiap memejamkan matanya sambil menyedekapkan tangannya. Taksi mulai berjalan
Aku masih bingung dengan perbuatannya. Tapi melihat dia sudah tertidur. Aku diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri
“turun mana mbak?”. Tanya sopir taksi.
Aku menunjukkan kartu nama kakakku. Tertera alamat jelas rumahku. Pak sopir taksi hanya mengangguk tanda dia tahu jalan ke rumahku.
Desiran angin yang masuk lewat jendela kaca, suara gemuruh dari pohon-pohon yang terlewati taksi dengan kecapatan maksimum, seakan menandakan malam semakin mencekam, dengan pemandangan kanan kiri hutan. Tiada lagi suara kendaraan selain yang aku tumpangi hanya suara angin seram di luar sana. Cahaya mata mulai terasa redup, seakan sudah tak ada daya untuk melihat lagi, terasa penat dan lelah, rusukku terasa rapuh ingin segera rebahan di atas tumpukan kapuk yang nyaman.

Lama sekali tak sampai-sampai, gerutuku sendiri. Aku menengok ke sebelahku. Herlambang sudah tertidur pulas. Melihatnya tidur begitu polos dan damai. Dia benar-benar sosok yang bisa membuat damai siapapun yang melihatnya. Dengan perawakan tinggi besar tapi memiliki wajah yang lembut dan murah senyum. Sikapnya juga yang selalu mengayomi menjadikan dia paket yang sempurna. Benar-benar laki-laki idaman. Dia banyak dikejar-kejar cewek di kampus. Tidak hanya dari fakultasnya saja, tapi hampir di setiap fakultas pasti ada saja yang jadi fansnya Herlambang. Apalagi sepak terjangnya di BEM kampus. Semakin membuat dia terkenan seantero kampus. Tapi entah kenapa sampai sekarang Herlambang belum mau memiliki pacar. Katanya sih dia mau berkarir dulu baru mikir cewek. Sebagai sahabatnya aku hanya prihatin saja. Karena kondisinya berbanding terbalik denganku.
Selama kuliah sampai sekarang aku memasuki tahun terakhir. Aku sudah 4 kali ganti cowok. Yah meskipun yang 3 sebelumnya aku selalu dikhianati. Aku bersyukur pacarku yang terakhir ini setia dan bisa mengerti hubunganku dengan Herlambang. Namanya Reza. Dia mahasiswa Hukum setahun diatasku. Dia baru lulus dan sekarang bekerja di Jakarta. Meskipun LDR, dia tidak pernah meragukan kesetiaanku atau curiga apa-apa dengan Herlambang. Karena ketiga cowokku sebelumnya, selalu saja berburuk saja dengan Herlambang. Mereka tidak suka dengan hubungan persahabatanku dengan Herlambang. Memang sih aku akui, hubungan kami sangat dekat. Dimana ada aku selalu ada Herlambang. Tapi saat pacarku mau ngajak aku jalan berdua, Herlambang akan mengerti dan tidak mengganggu. Makanya itu aku ingin dia juga punya pacar, supaya orang-orang tidak salah tafsir dengan hubungan kami. Tapi kalau dipikir-pikir ada untungnya juga dia tidak punya pacar. Jadi dia tetap bisa bersamaku kapanpun. Kalau dia punya pacar bisa-bisa rasa sayangnya dan waktunya bersamaku akan berkurang. Maaf ya Lambang aku memang egois.
“mbak..mas..sudah sampai”. Kata sopir taksi menyadarkanku dari lamunan panjangku. Ketika aku mau membayar sopir taksi sebelum turun langsung di tolak sama pak sopir taksinya.
“sudah dibayar sama masnya mbak”. Kata pak sopir taksinya. Aku terkejut melihat ke sampingku. Aku membangunkan Herlambang dan aku turun duluan.
“berapa tadi ongkos taksinya?, biar aku ganti”. Kataku pada herlambang sambil memakai ranselku sendiri. Herlambang masih setengah sadar dan banyak menguap karena kantuknya.
“sudah nggak usah, kayak sama siapa aja”. Jawabnya enteng dan ngeloyor jalan duluan.
Aku jalan mendahuluinya dan menghentak-hentakkan kakiku. Menunjukkan kemarahan dan ketidaksukaanku dengan kelakuannya. Kemudian aku mengetuk pintu rumahku dengan tidak sabaran dan memanggili ibukku dengan berteriak. Dia hanya tersenyum dan berjalan mendekatiku.
“sudah jangan marah. Besok traktir aku makan rujak cingur di mbok yah deket rumahmu. Sampai aku kenyang”. Bujuk Herlambang. Dan aku hanya kaget dan bengong mendengarnya.
Ckreeeekkkk. Suara pintu rumahku sudah dibuka. Muncul sosok wanita paruh baya dengan tampilannya yang sederhana dan penuh kebijaksanaan.
“lho mulih tho nduk?, kok ndak ngabari masmu tho?, lha masmu malah nginep kantore kie piye, kok gak jemput adine?(lho pulang nak?, kok tidak ngabari kakakmu?, kakakmu malah menghinap di kantonya itu bagaimana, kok tidak jemput adiknya?.)”. Tanya ibu bertubi-tubi.
“mboten nopo-nopo buk, kulo seng kesupen ngabari mas. Kulo wangsul kaleh Lambang kok buk (tidak apa-apa bu, saya yang lupa ngabari kakak. Saya pulang sama Lambang kok.)”.  jawabku untuk meredakan kecemasan ibu.
“oalah lha kok malah ngrepoti nak Lambang kie piye tho nduk? (kok malah merepotkan nak lambang, itu bagaimana sih?)”. Tanya ibuk sekali lagi.
Karena aku capek aku langsung ngeloyor masuk rumah. Belum sempat jawab pertanyaan ibu yang terakhir.
“kulo seng purun buk. Mboten ngrepoti nopo-nopo. Kulo  kangen kalehan ibuk lan Mas Arlan, kulo nggeh kangen hawane deso (saya yang mau bu. Tidak merepotkan apa-apa. Saya kangen sama ibu dan Kak Arlan. Saya juga kangen udara desa)”. Jawab Herlambang dari belakangku.
“sering-sering dolan rene tho. Ibuk malah seneng malah ono koncone. Masmu kie  nek nyambut gawe wes ra ngerti wektu (sering-sering main kesini lah. Ibu senang malah ada temannya. Kakakmu tuh kalau kerja sudah tidak tau waktu)”. Jawab ibu dengan wajah sumringahnya.
Aku membiarkan Herlambang dan ibu berbincang-bincang. Aku langsung ke kamar, mandi dan tidur. Baru mau memejamkan mata HP-ku bunyi tanda ada yang menelpon. Kulihat layar smartphoneku. Kulihat nama Reza di layar pemanggil. Dengan semangat kuangkat telpon dari reza.
“Assalamualaikum za”. Salamku pada Reza.
“Waalaikumsalam cantik, kamu sudah sampai rumah belum?, kok nggak ngabari aku sih. Aku kan khawatir dan nggak bisa tidur kalo belum dapat kabar darimu..hhhh.”. Terdengar suara mendesah berat dari seberang sana.
“aku kira kamu sudah tidur. Kan ini sudah tengah malam. Aku lupa ngabari kakak. Jadinya aku pulang naik taksi ditemani Herlambang”. Aku menjelaskan keadaanku tadi pada Reza.
“yaudah kalo kamu sudah di rumah dengan selamat. Sampaikan salamku pada ibuk dan Mas Arlan ya. Juga sama Herlambang, ucapin makasih udah nganter CALON ISTRIKU sampai rumah”. Kata Reza sambil menekankan kata calon istriku.
“apaan sih za. Udah ah udah malem. Kamu tidur ya. Ini hari libur za, banyak istirahat ya. Bye za”. Kataku menyudahi telpon.
Aku langsung mematikan HP dan aku langsung menarik selimutku dan tidur. Dan tanpa sepengetahuanku di seberang sana. Reza entah sudah ke berapa kali dia mendesah berat menahan amarahnya karena cemburu dengan kedekatanku dengan Herlambang. Dan tanpa sepengetahuanku pula dia sebenarnya sangat membenci Herlambang sama seperti mantan-mantanku dulu. Entah aku yang bodoh atau tidak peka dengan keadaan Reza yang sebenarnya. Entahlah.
Sudah dua hari di rumah. Tapi aku tidak pernah ketemu Mas Arlan. Sudah hari sabtu dan besok aku harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan perjuanganku. Sabtu sore kakakku pulang dari kantornya.
“loh mas, prei prei kok tetep kerjo tho, ra ngerti adekmu balik po? (loh kak, libur libur kok tetap kerja, nggak tahu adekmu pulang apa?)”. tanyaku ke kakakku.
“malahan mas pengen cepet ngrampungke kerjaane mas mergo sesok ono acara penting kanggo kowe (malahan kakak mau cepat menyelesaikan kerjaan kakak karena besok ada acara penting buat kamu)”. Jawab mas Arlan.
Aku hanya mengerutkan alis heran karena aku tidak mengerti apa yang di maksud kakakku dengan acara penting buatku.
“ono opo tho mas sesok?(ada apa sih mas besok?)”. tanyaku pada kakakku.
“yo deloken dewe (ya lihat saja sendiri)”. Jawab kakakku sambil ngeloyor pergi. Karena aku masih penasaran aku bertanya ke ibuku. Tapi jawaban yang kudapat sama saja. Akhirnya aku menyerah dan sibuk sendiri meredam rasa penasaranku.
Dua hari kemarin aku sibuk menemani Herlambang kesana kemari wisata kuliner ala desaku. hari ini dia sudah pulang ke rumahnya sendiri. Karena besok kita berdua harus balik ke jogja sore hari. Karena tidak ada Herlambang aku bingung mau berbagi dengan siapa rasa penasaranku.
Hari sudah semakin larut. Dari sore aku menahan rasa penasaranku. Dan sekarang aku sudah tidak tahan. Akhirnya aku memutuskan untuk mendial nomer Herlambang dan mengadu padanya.
Hampir semaleman aku telponan dengan Herlambang dan tidur menjelang pagi. Aku bangun kesiangan dan ketinggalan sholat subuh.aku lihat jam weker di sampingku.
“hah, jam 9”. Kagetku. Aku langsung mandi dan keluar dari kamar untuk sarapan. Karena jarak ruang makan tidak jauh dari ruang tamu hanya terpisah oleh ruang tengah. Aku bisa mendengar suara rame-rame dari ruang tamu. Karena aku penasaran aku segera ke ruang tamu.
Alangkah terkejutnya diriku. Melihat Reza dan keluarganya sedang berbincang asyik dengan ibu dan kakakku. Melihat diriku mengintip dari balik pintu, ibuku langsung menoleh padaku.
“ini dia yang ditunggu-tunggu, sudah bangun ternyata”. Kata ibuku dengan bahasa indonesianya yang pas-pasan sambil menarikku paksa bergabung di ruang tamu. Ibuku menggunakan bahasa Indonesia memang karena keluarga Reza tidak bisa bahasa Jawa.
“apa kabarmu dek Nisa?”. Tanya tante Arni ibunya Reza.
“ba..ba..baik tante. Tante sekeluarga bagaimana  kabarnya?”. Tanyaku basa-basi pada tante Arni.
“kami semua alhamdulillah baik dek. Hanya keadaan neneknya kurang sehat. Maklum sudah sepuh. Jadi beliau tidak bisa ikut hanya titip salam saja. Kangen sama dek Nisa katanya”. Jawab tante Arni.
Aku melihat Reza dan dia hanya memandangiku tanpa berkedip. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
“aduh ada yang aneh sama diriku apa?, sampai Reza melihatku segitunya”. Gerutuku dalam hati sambil menunduk malu karena Reza terus saja menatapku.
“ehm..karena Nisa sudah disini. Saatnya acaranya dimulai. Bagaimana Mas Arlan?”. Tanya Reza pada kakakku
“silahkan dimulai, nggak usah terlalu formal. Yang pentingnya semuanya tersampaikan dengan baik”. Kata kakakku mempersilahkan Reza. Aku hanya bingung sebenarnya ada apa ini.
“ehm..Assalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh, saya Reza Arya Kusuma beserta keluarga datang ke rumah keluarga Ibu Rusmini pagi ini yang tepat pada Hari Minggu, 2 Mei 2016 bermaksud untuk melamar atau meminang putri Ibu yang bernama Annisa Widya Rosita”. Kata Reza dengan gamblang dan khidmat dengan segala niatnya. Aku yang mendengar itu langsung membuat perasaanku melayang. Aku bahagia, shock, bingung, dan apalagi perasaan yang saat ini berkecamuk di dadaku. Aku tidak pernah menyangka Reza akan secepat ini melamarku. Saking senangnya aku justru bengong melamun entah kemana. Dan melupakan sejenak hal yang paling penting disini.
“ Bagaimana Arlan?”. Tanya ibu ke mas Arlan karena mas Arlan sudah menjadi kepala keluarga di rumah ini semenjak meninggalnya Ayah.
“kita serahkan saja pada adikku  ini, yang bersangkutan langsung, monggo dek dijawab?”. Mendengar mas Arlan sudah menyerahkan semua jawabannya padaku. Aku langsung gugup dibuatnya.
“e...e..e...e”. aku hanya bingung mau menjawab apa. Karena jujur ini semua terlalu mendadak dan aku belum siap dengan semua ini. Hanya kata itu yang bisa keluar. Aku menunduk lama. Sampai mas Arlan mengingatkanku.
“bagaimana dek?, kalau kamu diam,kakak anggap kamu ragu dan menolak semua niat Reza”. Kata-kata mas Arlan membuatku kaget dan sontak aku langsung berdiri. Dari yang tadinya duduk menunduk.
“iya mau...aku bersedia kok”. Kataku setengah berteriak dan membuat seisi ruangan kaget. Hening sejenak, kemudian mereka tertawa semua. Menertawakan kekonyolaanaku. Aku hanya nyengir kuda merasa malu dengan perbuatanku barusan.
“Ok, semuanya sudah jelas. Adek saya mau menerima lamaran Reza sekeluarga. Untuk kelanjutannya saya tunggu kapan kalian siap menikah. Biar saya juga bisa mempersiapkan diri untuk jadi wali nikah adek saya”. Kata mas Arlan mengejutkanku dan Reza.
“ Saya mau pernikahan dilangsungkan setelah dek Nisa wisuda, jadi tidak mengganggu konsentrasi dek Nisa dengan kuliahnya”. Jawab Reza mantap.
Aku terharu melihat ketegasan dan kemantaan Reza. Dan aku jadi yakin untuk menyerahkan diriku sepenuhnya menjalani masa depanku dengannya. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini memiliki Reza.
“aku setuju”. Aku menambahi jawaban Reza. Reza hanya balas melihatku dan tersenyum.
“ok, acara ini bisa disudahi, silahkan dilanjutkan ngobrol-ngobrolnya. Jangan sungkan-sungkan. Angga saja rumah sendiri. Aku pamit ke belakang dulu.”. Kata mas Arlan. Mas Arlan pamit ke belakang. Aku mengikuti kakakku dan setelah sampai pintu penghubung antara ruang makan dan dapur kakakku berhenti. Akupun juga berhenti. Aku melihat punggung kakakku bergetar hebat dan aku juga mendengar isakan-isakan kecil. Kakakku menangis. Hari ini pertama kalinya aku melihat kakakku menangis. Kakakku yang selama ini selalu tegar. Bahkan di hari kematian ayah dia tidak menitikkan air mata sedikitpun. Hari ini dia menangis, di hari aku dilamar seseorang, dihari paling bahagia di umurku sekarang. Aku menghampirinya, kuusap punggungnya dengan lembut.
“Mas..” panggilku dengan selembut mungkin. Dia berbalik menatapku dan memelukku seketika. Tangisnya semakin hebat. Aku biarkan dia meluapkan segalanya hari ini. Biar hilang semua beban di hatinya. Kakakku memang cuek dan usil. Tapi aku tahu dia sangat menyayangiku. Begitu sebaliknya aku sangat menyayanginya.
“ adekku wis gede. Biyen bapak sakkdurunge meninggal nitipke sampean neng aku. Aku juga durung ngerti maksude njogo awakmu kie piye. Aku mung ngiyani karepe bapak. Aku takon kyaiku piye nggo jogo awakmu. Tak lakoni opo seng iso tak lakoni kanggo awakmu. Untunge sampean juga iso njogo kehormatane sampean. Sampean iso tegas karo kekarepane sampean. Bahkan sampean luwih iso tanggung jawab dibandingke aku. Aku selalu iso percoyo ngeculne sampean. Dan kebukti sampean gak pernah gagal. Sampean iso gawe bangga mas lan ibu. Saiki wis wektune aku nglepas sampean kanggo wong liyo. Dadio garwo sing mangerti mbek bojo, dadio sandarane, dadio kancane, dadio ibune, dadio mbak yune kanggo bojomu. Dadio garwo seng iso nggawe tentrem isine omah. Dadio ibu seng iso didik anak-anakmu tanggung jawab koyo sampean. Mas wis sepenuhe percoyo sampean iso dadi koyo kuwi kabeh mau (adikku sudah besar. Dulu bapak sebelum meninggal menitipkan kamu ke aku. Aku juga belum mengerti maksud jaga dirimu bagaiman. Aku hanya mengiyakan keinginan bapak. Saya tanya kyaiku bagaimana cara jaga dirimu. Aku jalani apa yang bisa tak jalani buatmu. Untungnya kamu juga menjaga kehormatanmu sendiri. Kamu bisa tegas dengan keinginanmu. Bahkan kamu bisa lebih tanggung jawab dibandingkan aku. Aku selalu bisa percaya melepaskanmu. Dan terbukti kamu tidak pernah gagal. Kamu bisa buat bangga kakak dan ibu. Sekarang waktunya aku melepasmu untuk orang lain. Jadilah istri yang bisa mengerti suami, jadilah sandarane, jadilah temannya, jadilah ibunya dan jadilah kakak perempuan buat suamimu. Jadilah istri yang bisa menentramkan seisi rumah. Jadilah ibu yang bisa mendidik anak-anakmu tanggung jawab seperti dirimu. Kakak sudah sepenuhnya percaya kamu bisa menjadi seperti semua itu tadi.  )”. Kata kak Arlan panjang lebar sambil memelukku. Sekrang gantian aku yang menangis sejadi-jadinya. Dan gantian mas Arlan yang menenangkanku.
“nduk le..reneo sedeluk. Iki wong tuane Reza arep pamit (nak kesini sebentar. Ini orangtuanya Reza mau pamit)”. Mendengar suara ibu yang berteriak dari ruang tamu. Aku dan mas Arlan langsung membereskan penampilan, cuci muka dan langsung lari ke ruang tamu.
“ono opo kalian mlayu-mlayu. Kok teles kabeh kie lagi bar ngopo neng mburi?”. Tanya ibu pada kami berdua. Aku langsung melihat keadaanku dan Mas Arlan. Mas arlan juga melihatku dari atas sampai bawah. Memang baju kami hampir basah semua. Kami saling pandang sejenak kemudian tertawa. Ibu, tante Arni, Reza dan Om Rio papanya reza hanya heran melihat kami tertawa. Kami langsung membungkam mulut dan minta maaf. Kemudian kedua orang tuanya Reza pamit kembali ke hotel. Aku kira Reza juga bakal balik hotel. Ternyata dia masih disini.
“emang kamu habis ngapain di belakang?”. Tanya Reza begitu selesai mengantar orangtuanya ke mobil.
“nggak apa-apa. Ini rahasiaku dengan kakakku”. Dan Reza hanya mengendikkan bahunya.
“ kok kamu nggak ikut orang tuamu pulang?”. Tanyaku ke Reza.
“ wah ngusir calon suami nih ceritanya”. Kata Reza sambil menggodaku.
“ iya kan baru calon belum sah”. Cibirku ke Reza dan lari masuk ke dalam rumah.
Aku melihat kakakku sebentar keluar dari kamarnya setelah ganti baju. Dia hanya tersenyum. Aku balas tersenyum. Aku langsung masuk kamar untuk ganti baju.  Hari ini aku tahu sisi lain dari kakakku. Setegar-tegarnya dia, dia juga punya sisi lemah. Dan hari ini dia sudah menumpahkan semuanya. Melepaskan bebannya. Aku harap setelah ini kakak lebih bisa bahagia dan ringan menjalani hidupnya. Semoga kakak juga cepat mendapatkan pendamping hidupnya agar dia tidak perlu menangis sendiri. Agar dia juga bisa bahagia.
Setelah ganti baju aku menemani Reza muter-muter di desaku. Dia sangat takjub dengan hamparan Hijau di perbatasan desa. Dia sangat senang  jalan-jalan di pematang sawah. Dia seperti anak kecil mendapat mainan yang diinginkannya. Tidak ada hentinya mulutknya mengatakan wah sampai terus menganga. Berlari-lari merentangkan tangannya menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“wow keren, kok kamu nggak pernah cerita sih kalo desamu seindah ini”. Kata reza sambil memandang luasnya langit.
“kamu kan nggak pernah tanya”. Jawabku sekenanya. Karena aku sudah capek mengikuti Reza.
“apa Lambang sering kesini?, apa kalian sering maen bareng ke tempat ini?”. Tanya reza.
“ dari jaman kita masih sekolah dia paling suka ikut aku pulang. Weekend dia selalu kesini. Tapi karena rumahku sudah seperti rumahnya sendiri. Dia sering keliling sendiri. Aku nggak tau dia udah kemana saja selama di desaku. Hanya sesekali saja aku menemaninya. Itupun karena aku janji traktir makan dia sebelumnya”. Jawabku pada reza.
“ow..kirain kamu selalu menemaninya, seperti selama ini dia selalu menemanimu di kampus”. Kata Reza. Dan aku menangkap sedikit nada ketidaksukaan disana,
“ kamu nggak cemburu sama Lambang kan?”. Tanyaku pada Reza.
“Emang aku berhak?”. Balas Reza dengan nada menahan marah.
“aku tau dia orang spesial buatmu, dan aku maklumi itu. Tapi bagaimanapun aku nggak suka dia selalu di sekitarmu. Makanya aku ingin segera mengikatmu dengan penikahan. Agar aku bisa menggantikan peran dia. Dan aku bisa bilang ke dia kalau itu tugasku”. Kata reza panjang lebar.
“aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin perhatian, cinta dan sayangmu hanya untukku. Aku ingin semua waktumu terisi olehku bukan Lambang. Aku memang akan membatasi waktumu dengan Lambang. Tapi aku tidak akan menghalangimu untuk menemui dia”. Kata reza menjelaskan semuanya. Dan aku hanya mengangguk terharu.
“aku akan mengisi duniaku denganmu sepenuhnya”. Tangisksu.
Dia hanya mengangguk. Dia menggenggam tanganku menyusuri pematang sawah menuju mobil. Hatiku merasa hangat dibuatnya. Sorenya Reza pamit balik ke hotel. Dan malamnya aku dan Lambang balik ke Jogja.
***
Baru seminggu di Jogja, Lambang mengabariku kalau dia pulang lagi. Ada urusan keluarga katanya. Lambang jadi sering pulang hampir setiap minggu dia selalu pulang. Setiap kali aku tanya ada apa. Dia selalu tidak mau cerita. Lama-lama Lambang semakin menjauh dari aku dan makin susah ditemui. Hari-hariku makin sepi tanpa kehadiran Lambang. Aku merindukan kehadirannya seperti dulu. Selalu ada dimanapun aku ada. Dulu weekend kita selalu muter-muter Jogja tanpa tujuan yang jelas. Herlambang yang selalu ngantar jemput aku karena aku memang tidak punya motor. Sekarang kemana-mana aku harus sendiri dan mengandalkan angkutan umum. Sudah dua bulan ini Herlambang sering pulang dan tidak jelas apa masalahnya. Aku jadi lebih sering menghubungi Reza. Sedikit mengobati kesepianku. Tapi ketidakhadiran Herlambang beberapa bulan ini tetap membuat terasa ada yang hilang. Hari menjelang sore dan dua hari ini aku tidak kemana-mana. Aku bosan dan aku benar-benar merindukan sahabatku. Pertama aku dial nomer Herlambang. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi tante Ratri mamanya Lambang. Kupencet nomer tujuanku. Dan terdengar nada sambung ke HP tujuan.
“iya halo dek Nisa. Assalamualaikum, bagaimana kabarmu dek?”. Sapa orang dari seberang sana.
“waalaikumsalam, baik tante. Kabar tante sekeluarga juga gimana?” sapaku basa-basi.
“baik nak, tapi Lambang makin hari makin drop”. Jawab tante Ratri dengan nada lesu.
“Lambang sakit?. Sakit apa ya tante?. Trus gimana kondisinya sekarang?”. Tanyaku panik. Karena memang Lambang tidak pernah cerita kalau dia sakit atau punya keluhan kesehatan.
“loh kok dek Nisa nggak tau?. Emang Lambang tidak cerita apa-apa sama dek Nisa?”. Tante Ratri balik bertanya kepadaku.
“sudah dua bulan ini aku susah menemui Lambang tante. Dia seperti menjauh dari aku. Kalo aku tanya dia kenapa, dia nggak pernah mau jawab. Dan sudah sebulan aku sama sekali tidak bertemu Lambang. Dia juga makin susah aku hubungi”. Jawabku dengan sedih. Membayangkankan bagaimana deketnya aku dengan Herlambang.
“ooo, mungkin memang Lambang mau merahasiakan semua dari dek Nisa”. Tante Ratri berusaha menghiburku.
“Herlambang sakit apa tante?. Aku mohon tante mau jawab. Jangan sembunyiin apa-apa dari aku. Bagaimanapun Lambang orang paling dekat denganku selama ini”. Mohonku sama tante Ratri.
“hiks..hiks.. Lambang mengalami kelainan di kedua ginjalnya dan dua-duanya harus diangkat. Sudah 2 bulan Lambang menjalani cuci darah tiap minggunya. Dan sampai hari ini Lambang belum mendapat donor Ginjal yang pas..hiks”. terdengar isakan-isakan kecil dari suara Tante Ratri.
Aku shock mendengar itu semua. Herlambang sahabatku yang selama ini selalu ada buatku. Sekarang menghadapi perjuangan hidupnya sendiri. Dia sama sekali tidak mau berbagi penderiataannya denganku. Dia anggap apa aku selama ini. Sekarang perasaan khawatir, penasaran, dan shock menjadi satu. Aku menangis sejadi-jadinya.
“ta..ta..hiks..hiks..ta..tapi kenapa dia nggak bilang apa-apa sama aku?, tante”. Tanyaku pada tante Ratri.
“tante tidak tau apa-apa dek. Datanglah ke RSU Medika Madiun. Mungkin dengan kehadiran dek Nisa dia bisa makin semangat. Kemarin dia bilang ke papanya, klo dia..hiks..hiks..sudah mau menyerah. Maaf dek tante tutup ya. Bentar lagi Lambang keluar dari ruang cuci darah. Tante nggak mau dia mendengar telpon kita. Biarkan ini jadi kejutan buat dia”. Kata tante Ratri mengakhiri telpon denganku.
Aku masih termenung karena shock yang menderaku. Bahkan aku tidak sadar kalo HP-ku sudah lepas dari genggamanku dan mencium lantai sampai bagiannya pisah-pisah. Aku ingin saat itu juga untuk pulang ke Madiun. Aku segera meluncur ke stasiun tapi apa daya. Aku kehabisan tiket. Dan kereta yang bisanya beroperasi bolak-balik madiun jogja sedang tidak beroperasi. Setelah itu aku langsung menuju terminal. Tapi aku nggak menemui bis Jogja-Srabaya yang biasanya beroperasi. Aku bertanya pada petugas terminal. Dan katanya bis Jogja-Surabaya sudah dialihkan ke Solo-Surabaya. Mau mencari bis Solo-Jogja sudah kesorean. Akhirnya aku tunda kepulanganku.
Sudah dua hari rencana kepulanganku tertunda. Ada saja halangan untuk aku pulang. Sedangkan di Madiun, kondisi Herlambang makin drop. Dan sekali lagi aku tidak tau apa-apa.Cuci darah yang biasa dia jalani sudah tidak bisa membantu banyak. Saat ini kondisi Herlambang kritis banyak selang dari alat-alat medis yang dipasang untuk menopang hidupnya. Semenajak terakhir cuci darah kondisi Herlambang tidak ada kemajuan. Dan dari kemarin dia malah jatuh koma. Sekarang Herlambang dirawat di ICU. Kedua orang tuanya hanya bisa menangis dan berdoa.
Dua hari lalu Herlambang mendengar semua percakapan Telponku dengan mamanya. Dan dia memperingatkan mamanya untuk tidak menerima telpon atau hubungan apapun dariku. Karena dia tidak ingin aku melihat kondisinya yang miris seperti itu. Dia makin kurus dan pucat. Bahkan sekarang dia terbaring lemah koma. Dia paling tidak suka melihatku menangis.
Hari ini jumat, semua urusan kampus yang menjadi penghalangku pulang sudah kuselesaikan. Hari ini aku bertekad harus pulang. Entah mau naik apa saja. Aku ke stasiun untung ada sisa tiket kereta Jogja-Surabaya siang ini. Aku meluncur ke Madiun siang itu juga. Aku sengaja turun di Stasiun Madiun karena lokasinya lebih dekat dengan RSU Medika tempat Herlambang dirawat. Aku sengaja tidak mengabari ibu atau kakakku, karena aku juga tidak tahu sempat pulang ke rumah atau tidak.
Sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan kenangan-kenangan bersama Herlambang. Aku hanya menatap lurus menatap keluar jendela dan menangis pelan. Bukan karena menikmati pemandangan tapi karena pikiranku sekarang hanya tertuju pada Herlambang. Tiba-tiba HP-ku bergetar tanda ada telepon. Kulihat layar HP-ku dan pemanggilnya adalah Reza.
“ assalamualaikum za, ada apa?”. Sapaku ke penelpon di seberang sana.
“ waalaikumsalam, kamu dimana yang?. kok nggak ada di kos?. aku lagi dijogja nih”. Jawab Reza dari seberang sana.
“maaf za, aku nggak ngabari kamu dulu. Aku hari ini pulang mungkin besok sore baru balik jogja”. Jawabku dengan malas.
“kamu kangen ibu sama kakakmu?. Atau jangan terjadi sesuatu di rumah?. Ibu sama kakak kamu baik-baik aja kan?. Kok dadakan banget kamu pulangnya?”. Cerocos Reza bertubi-tubi. Kutangkap nada cemas disana.
“nggak Za, bukan kakak atau Ibu, tapi Herlambang”. Jawabku.
Hening sejenak. Aku tunggu Reza bicara. Tapi tak kunjung bicara juga.
“ za, kamu nggak apa-apa kan?”. Tanyaku pada Reza.
“yaudah cepet balik Jogja ya. Aku dua minggu ke depan ada di Jogja. Bye”. Jawab Reza mengakhiri telpon tiba-tiba dan langsung diputus.
Aku tahu sekali lagi Reza cemburu. Aku biarkan Reza dulu. Saat ini fokusku ke Herlambang.
“Maaf ya za, saat ini sahabatku lebih butuh aku dibanding kamu”. Aku berbicara sendiri berharap Reza mendengarnya dan mau mengerti.
Sedangkan keadaan Herlambang di RS semakin mengkhawatirkan. Pagi ini dia sempat kehilangan detak jantungnya. Untung saja tim dokter masih bisa menyelamatkannnya. Dokter yang merawat Herlambang sudah tidak ada harapan lagi untuk Herlambang. Selain karena Herlambang yang belum mendapat donor ginjal, kondisi tubuhnya tidak akan kuat untuk menjalani operasi. Dan dokter bilang mungkin Herlambang hanya akan bertahan beberapa jam lagi atau beberapa hari kemudian.
Tepat jam 3 sore. Herlambang membuka matanya. Dia memanggil kedua orang tuanya. Suster yang menyaksikan itu langsung memanggil orang tua Herlambang. Mama dan papanya langsung buru-buru masuk dan mendekat ke ranjang Herlambang.
“ mah, pa, maafin Lambang belum bisa membahagiakan kalian. Lambang minta maaf untuk semua kenakalan Lambang. Tolong sampaikan surat ini ke Annisa”. Dia memberikan surat yang diambil dari bawah bantalnya
“ Maaf ma pa, Lambang harus pamit. Auww..sakit ma pa”. Teriak herlambang sambil meringis menahan sakit. Melihat anaknya yang seperti itu tante Ratri hanya menangis dan keluar ruangan karena tidak sanggup melihat semua itu.
“Ma..ma..af..Lll..Lambang..su..dah..nggak..ku..at. tolong..bim.bing..Lambang pa”. Om Hendra papanya Herlambang langsung membimbing Herlambang menyebut istigfar dan kalimat Lailahaillallah. Meskipun dengan suara terbata-bata Lambang bisa mengikutinya. Dan seketika papan penunjuk detak jantung menunjukkan garis lurus. Tiiiiiiiiiittt, bunyi mesin pendeteksi jantung. Mendengar itu tante Ratri masuk kembali dan melihat anaknya sudah menjadi raga tanpa nyawa. Dingin dan pucat. Pecahlah tangis tante Ratri dan Om Hendra hanya menangis tertahan melihat pemandangan di depannya.
Aku tepat jam 3 sampai madiun, langsung naik ojek menuju rumah sakit. Tapi ketika aku sampai resepsionis aku melihat tante Ratri dan Om Hendra mengikuti ranjang yang didorong beberapa petugas rumah sakit. Ranjang itu berisi sesosok manusia yang sudah ditutupi kain putih dari kepala sampai kakinya. Aku langsung menyetop ranjang tersebut dan entah apa yang ada di pikiranku. Aku membuka selimut dan melihat wajah jasad tersebut. Melihat wajah pucat Herlambang aku hanya berdiri terpaku dan bengong. Aku masih tidak percaya Lambangku yang saat ini terbujur kaku didepanku. Ranjang tersebut didorong lagi dan selimut yang aku buka sudah ditutupkan kembali. Tante Ratri memeluk bahuku dan membawaku bersamanya. Aku ikut masuk ke mobil om Hendra dan Tante Ratri. Aku masih bengong. Aku mengikuti mereka semua sampai ke rumah Herlambang. Tante Ratri membawaku ke kamar Herlambang. Aku masih tetap bengong. Entah bagaimana berseliweran semua kenangan bersama herlambang di otakku. Dan aku masih bengong. Ketika jasad Herlambang siap untuk diberangkatkan ke pemakaman setempat. Tante Ratri memeluk bahuku membantuku berdiri, memakaikan selendang hitam di kepalaku dan membawaku ke pemakaman Herlambang. Sampai pemakaman selesai aku masih tidak bergeming. Tante Ratri membawaku ke kamar Herlambang lagi. Diambilkannya beberapa album foto dan amplop diatasnya. Aku tidak tahu apa isi amplop tersebut. Dia hanya menaruh semua itu di pangkuanku.
“lihatlah semua ini dan bacalah surat terakhir Herlambang untukmu”. Kata tante Ratri dengan suara paraunya karena terlalu banyak menangis. Mendengar kata surat terakhir aku langsung tersadar dari lamunan panjangku. Tante Ratri mencium keningku dan meninggalkanku sendirian di kamar Herlambang.
Aku membalik-balik melihat album foto tersebut. Banyak fotoku dan Herlambang dari kecil sampai kami kuliah. Satu, dua, tiga, sudah tiga album foto kulihat dengan seksama. Membangkitkan kenanganku dengan Herlambang. Semuanya menggambarkan kebahagiaan yang selalu terpancar di wajah kami ketika bersama. Kuambil surat yang diamplop, kubuka dan kubaca dengan hati-hati.
Dear Nisa,
Assalamualaikum,
            Makasih sudah hadir di hidupku. Makasih sudah mewarnainya dengan berbagai macam warna. Hidupku yang dulunya sepi menjadi berwarna karena kamu ada. Setelah bertahun-tahun bersahabat denganmu. Aku menjadi sangat mengenalmu. Sampai kita SMA tanpa kusadari cinta itu datang. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Aku ingin selalu membuatmu bahagia. Sampai suatu saat kamu mulai pacaran dengan laki-laki lain. Kamu memang tidak pernah mengabaikanku. Tapi rasa cemburu itu tetap ada. Aku menahan semuanya meskipun rasanya aku mau mengamuk ke pacar-pacarmu itu. Ketika kamu terluka karena mereka, aku lebih tidak suka lagi. Tapi aku menahan semuanya, karena aku takut kamu tehu perasaanku dan menjauh dariku. Kamu orang paling berharga di hidupku Nis. Aku nggak pernah bisa hidup kalo kamu sampai menjauh dan membenciku. Aku memutuskan untuk memendam semua rasaku sendiri.
            Sampai dua bulan lalu, aku mendapat kabar dari Reza kalo dia mau melamarmu. Dan aku mendukungnya meskipun aku merasa tersakiti sekali lagi. Dan saat itu aku didiagnosa mengalami kelainan ginjal. Aku hanya berpikir mungkin sudah saatnya aku melepaskanmu untuk kebahagiaanmu. Sudah saatnya aku pergi karena sudah ada orang yang bisa menjagamu. Aku memutuskan untuk menghindarimu dan menjauh darimu agar kamu terbiasa tanpaku. Aku tidak mau melihatmu menitikkan air mata karenaku. Aku ikhlas menjalani semuanya. Karena memang dari awal aku memang sudah tidak ada harapan.
            Maaf karena aku mengabaikanmu. Aku bukan mau menyakitimu tapi aku ingin kamu terbiasa tanpaku. Aku tidak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu dengan Reza. Tetaplah tersenyum. Buatlah keluarga yang besar dengan banyak anak. Aku akan dengan bahagia menyaksikanmu dari surga sana.
            Aku memang mencintaimu, tapi cintaku tidak bersyarat, cintaku tidak meminta balasan, cintaku tidak akan mengikatmu. Cintaku hanya sesuatu yang murni yang akan menemanimu seumur hidupmu dalam kebahagiaan. Jangan menangis setelah kepergianku karena aku tidak akan bisa menenangkamu lagi. Teruslah warnai hidupmu dengan kebahagiaan. Tetaplah tegar dan tersenyum wahai bidadariku. Kan kutunggu kau di ujung dunia sana.
Sahabatmu sekaligus penjaga hatimu

Herlambang

Kulipat kembali surat tersebut kusimpan dalam tasku. Kukembalikan lagi album foto ke tempatnya dan aku menghapus air mataku. Aku berjalan dengan mantap keluar dari kamar Herlambang. Tante Ratri yang melihatku hanya tersenyum.
“jangan lupakan Lambang ya. Sering-sering main kesini biar tante nggak kesepian. Sekarang kamu adalah anak perempuan tante satu-satunya”. Tante Ratri menangis dan memelukku. Kurasakan pelukannya yang hangat dan tulus. Kemudian Om Hendra yang memelukku sambil sedikit terisak.
“om memang nggak banyak omong. Tapi om sudah mengannggap kamu seperti anak om sendiri”. Hari ini kudapatkan kembali kasih sayang seorang Ayah.
Aku melangkah keluar rumah dan aku kembali ke jogja malam itu juga dengan kereta malam.
“terima kasih Lambang sudah menjadi kakak, ayah dan sahabat yang baik buatku. Aku janji akan hidup bahagia untukmu. Aku akan terus tersenyum supaya kamu tenang. Kamu mungkin bukan cinta sejatiku didunia. Tapi aku berharap kita bisa bersatu di dunia yang lebih baik di masa yang akan datang. Aku akan berbahagia di dunia ini dengan Reza. Jangan minta aku melupakanmu karena itu tidak mungkin. Mungkin aku bisa melupakanmu sejenak. Tapi aku pasti akan mencarimu di suatu waktu nanti. Biarkan kamu tetaphidup di sudut hatiku. Dan hanya aku yang tahu. Akan selalu kupanjatkan doa untukmu di setiap sholatku.
Aku kembali ke Jogja dengan perasaan ringan. Aku tidak bisa lama di rumah Herlambang karena aku takut keyakinanku untuk hidup tanpa Herlambang akan goyah dan jatuh lebih terpuruk. Biar aku mendoakan Herlambang sendiri dengan caraku sendiri. Sekarang aku tidak akan menagis lagi karena kehilanganmu. Justru aku akan semakin bersemangat dengan mengingatmu. Karena hari ini aku belajar arti cinta darimu. Kereta malam membawaku menjauh dari jasad Herlambang dan semakin menjauh mendekati kebahagianku yang lain yaitu Reza
.

selesai

Senin, 09 Mei 2016

Teknik Teknik Tusuk Dasar Menjahit Menggunakan Tangan

Tusuk dasar menjahit yaitu teknik tusukan yang biasa digunakan dalam merajut atau menjahit yang  menggunakan jarum sebagai alatnya. Ada beberapa tusuk dasar yang biasa digunakan dalam menjahit busana, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Tusuk Jelujur
Tusuk jelujur merupakan salah satu teknik tusuk yang dilakukan dari mulai tusukan sebelah kanan ke sebelah kiri. Fungsi dari tusuk jelujur ini adalah untuk membuat jahitan lebih rapi dan sempurna. Dalam perkembangannya, tusuk jelujur ini dibedakan menjadi beberapa bentuk, di antaranya adalah sebagai berikut:

·                     Tusuk jelujur biasa, tusuk jelujur yang satu ini dilakukan dengan menggunakan jarak yang tidak sama alias secara sembarangan.
·                     Tusuk jelujur dengan jarak tertentu, tusuk jelujur ini merupakan tusukukan yang dibuat dengan jarak sama atau konsisten. Jenis tusuk jelujur ini berguna untuk tusukan sementara.
·                     Tusuk jelujur renggang, tusuk jelujur ini juga biasa disebut dengan tusuk renggang, yaitu tusuk jelujur ini menggunakan satu spasi. Tusukan jelujur renggang ini biasanya digunakan sebagai tanda ketika menjahit pakaian. Tusuk ini dibuat dengan menggunakan rangkap benang yang nantinya akan digunting, sehingga bekas tusukan tersebut akan meninggalkan jarak dari benang yang digunakan sebagai tanda dalam menjahit pakaian.
2. Tusuk Tikam Jejak/Balik
Tusuk tikam jejak/balik merupakan salah satu teknik dari macam-macam tusuk dasar. Tusuk tikam jejak /balik adalah tusuk jahitan dengan membuat bentuk jahitan yang jika dilihat dari bagian atas, tusukan jarum tersebut terlihat seperti jahitan mesin. Dan jika dilihat dari bagian bawah tusukan maka jahitan tersebut akan terlihat seperti jahitan yang dibuat rangkap.
Jarak tusuk jahitan di bagian bawah terlihat dua kali jarak dari tusukan bagian atas. Teknik menjahit yang digunakan pada tusukan ini adalah dengan tusukan langkah maju sebelum nantinya akan dibuat tusukan mundur dengan jarak yang sama. Dalam perkembangannya, tusuk tikam jejak ini sangat berguna untuk
menggantikan teknik tusuk jarum pada mesin jahit



3. Tusuk Flanel
Tusuk flanel biasa digunakan untuk mengelim pinggiran busana yang diobras. Tusuk flanel sering digunakan, terutama untuk busana yang dibuat dari bahan yang harganya mahal, di samping itu tusuk flanel juga dapat digunakan sebagai hiasan, sebagai tusuk dasar dan sulaman bayangan, untuk sulaman bayangan dengan jarak yang lebih rapat (dirapatkan) dan dapat juga mengikuti motif dekonasi. Caranya, jelujur kain yang sudah diobras 3-4 cm langkah tusukannya mundur 0,75 cm turun ke bawah, tusuk jarum ke kanan selanjutnya mundur lagi 0,5 cm tusuk lagi ke atas seperti tusukan pertama demikian seterusnya sampai selesai. Untuk mendapatkan hasil tusukan yang halus pada bagian bawah busana (pada rok) atau di mana pun tusuk flanel digunakan, lakukan dengan halus/tipis waktu menusukkan jarum ke bahan busana, dengan demikian hasil yang didapatkan juga halus dan tipis bila dilihat dari bagian balik (bagian buruk busana).


4. Tusuk Feston
Tusuk feston berfungsi untuk penyelesaian tiras seperti tiras lingkar kerung lengan atau pada pinggiran pakaian bayi. Tusuk feston juga dapat berfungsi sebagai hiasan bila benang yang digunakan adalah benang hias atau benang sulam dengan kombinasi warna yang serasi.

5. Tusuk Balut
Tusuk balut berfungsi untuk menyelesaikan tiras pada kampuh untuk klim rol. Tusuk balut juga dapat digunakan untuk penyelesaian pinggir teknik aplikasi. Teknik menjahitnya dimulai dari kiri ke kanan atau sebaliknya kanan ke kiri kesan benang dari tusukan agak miring.


6. Tusuk Batang atau Tusuk Tangkai
Tusuk batang dibuat untuk hiasan, teknik menjahitnya dengan langkah mundur οΎ± 0,5 cm dan mengaitkan 5 atau 6 benang pada bahan, jarum ditarik ke luar akan menghasilkan tusuk tangkai dan seterusnya tusuk mundur lagi seperti yang pertama begitu seterusnya sampai selesai. Untuk membuat tangkai yang lebih besar maka jarak tusukan dirapatkan dan mengaitkan kain lebih banyak (besar).


7. Tusuk Rantai
Tusuk rantai fungsinya untuk membuat hiasan tekniknya dengan langkah maju, dengan memasukkan jarum dari bawah ke atas, kemudian tusukan kembali pada lubang tempat jarum dilingkarkan pada jarum, ditarik sehingga benang yang melingkar berada di lubang kedua selanjutnya jarum kembali menusuk lubang tempat jarum ke luar dan ekor benang melingkar pada jarum seperti semula, begitu seterusnya sampai selesai dengan mengikuti motif hiasannya.

8. Tusuk Silang
Tusuk silang ini berfungsi untuk membuat hiasan. Teknik pengerjaannya dengan langkah sebagai berikut: dimulai dari kanan atas ke kiri bawah, terus ke kanan bawah (tusukan pertama). Kemudian tusuk kedua di mulai dari kanan bawah terus ke kiri atas, letak tusukan sejajar baik tusukan bagian atas maupun tusukan bagian bawah, (tusukan yang terlihat menyilang di atas kain) dan seterusnya sampai selesai.

9. Tusuk Piquar
Tusuk piquar merupakan teknik tusukan yang berfungsi sebagai jahitan yang dapat memasangkan bahan yang berbulu pada matel, jaket, atau jas. Selain itu, tusuk piquar juga dapat digunakan sebagai teknik tusuk hiasan pada beberapa jenis busana.
Teknik-teknik tusuk dasar tersebut menjadi teknik dasar dalam teknik menjahit pakaian. Untuk itu, teknik ini banyak diketahui oleh para penjahit pada umumnya.