“Tuuuutttttt,,,,, “Suara kereta
memecah keramaian didalam rangkaian gerbong berjalan ini, detakan roda
besi yang berputar diatas baja panjang tak berujung menemani perjalanan ku,
menuju kota kelahiranku. Dengan sahabatku yang menjadi sandaranku. Semakin
membuat kantukku sudah tak tertahankan.
“Lambang, nanti bangunin aku ya kalo sudah sampai”. kataku pada Herlambang sahabatku. Karena rasa kantukku sudah tidak bisa kutahan.
“Lambang, nanti bangunin aku ya kalo sudah sampai”. kataku pada Herlambang sahabatku. Karena rasa kantukku sudah tidak bisa kutahan.
“iya Nisa, kamu tidur ya, perjalanan kita juga masih jauh, setengahnya juga
belum”. jawab herlambang dengan suaranya yang berat tapi penuh kelembutan
membuatku akhirnya jatuh tertidur.
Aku Annisa mahasiswi pariwisata di Universitas Gajah Mada. Dan herlambang adalah sahabatku sahabatku dari kecil. Dia mengikutiku kuliah di jogja di jurusan arsitek di universitas yang sama denganku. Katanya alasannya biar bisa menjagaku. Aku selalu nyaman dengan herlambang. Dia selalu menjadi sosok sahabat sekaligus kakak buatku. Sehingga aku sangat menyayanginya lebih dari kakakku sendiri. Aku punya seorang kakak laki-laki. Namanya Arlan. Dan dia kuliah di Madiun di tempat asalku. Tapi dia sangat cuek dan usil. Alamat aku tidak mau dekat-dekat kakakku. Meskipun begitu aku tetap menyayanginya.
Aku Annisa mahasiswi pariwisata di Universitas Gajah Mada. Dan herlambang adalah sahabatku sahabatku dari kecil. Dia mengikutiku kuliah di jogja di jurusan arsitek di universitas yang sama denganku. Katanya alasannya biar bisa menjagaku. Aku selalu nyaman dengan herlambang. Dia selalu menjadi sosok sahabat sekaligus kakak buatku. Sehingga aku sangat menyayanginya lebih dari kakakku sendiri. Aku punya seorang kakak laki-laki. Namanya Arlan. Dan dia kuliah di Madiun di tempat asalku. Tapi dia sangat cuek dan usil. Alamat aku tidak mau dekat-dekat kakakku. Meskipun begitu aku tetap menyayanginya.
“Nis..Nis..Nisa.. NISA”. Panggil Herlambang dengan setengah berteriak
membuatku kaget dan pusing karenan dibangunkan secara tiba-tiba.
“nggak bisa lebih lembut apa?, kenapa?, sudah sampai po?”. Gerutuku sambil
ngucek-ngucek mata berharap bisa menghilangkan rasa kantukku yang masih
menggantung.
“maaf, stasiun berikutnya kamu turun. Kamu dijemput siapa?”. Tanya
Herlambang padaku dengan lembut. Tapi suara lembutnya tidak bisa mencegahku
untuk panik seketika.
“aku lupa ngabari orang rumah kalo aku pulang hari ini”. Cerocosku dengan
muka panik, bingung dan sambil mikir bagaimana aku jalan ke rumah.
Aku tinggal di pedesaan. Sedangkan herlambang tinggal di kota madiunnya.
Karena dulu aku satu sekolah SD dengannya, sehingga kami bisa bersahabat. Aku
dari jogja berangkat sore sehingga sampai madiun sudah larut malam. Minggu ini
long weekend. Aku hanya tiba-tiba mau pulang mumpung libur 4 hari. Itupun
sebenarnya aku mau pulang sendiri. Entah bagaimana Herlambang tau dan sudah
menyusulku di Stasiun Lempuyangan. Jadinya aku pulkam bareng Herlambang.
“Lambang aku pulangnya gimana dong?”panikku sambil menarik-narik tangan
Herlambang.
“aku lupa ngabari kakakku, dan kalo aku nunggu kakakku kelamaan. Aku takut
nunggu sendirian di Stasiun. Perjalanan rumah ke stasiun bisa satu jam”. Aku
menunduk lesu sambil memikirkan cara untuk pulang dari stasiun ke rumah. Karena
kondisi sudah malam. Tidak mungkin masih ada angkutan umum ke arah desaku. Aku
sudah mentok dan sudah pasrah.
Ckiit..ckiittt. suara rem kereta menandakan kereta sudah mau berhenti.
Tiba-tiba Herlambang menarik tanganku. Menyadarkan lamunanku tentang bagaimana
caranya aku pulang.
“ayo turun”. Herlambang mengajakku turun dari kereta. Dia menarik tanganku
lembut dan membawakan tasku. Aku hanya bengong karena masih shock dengan
perbuatannya. Aku hanya bingung kok Herlambang ikut aku turun. Padahal
seharusnya dia turun di stasiun berikutnya yang lebih dekat rumahnya.
“Lambang, kamu ngapain ikut turun sama aku?, kan kamu harusnya turun di
stasiun Madiun bukan disini?”. Aku menanti jawaban Herlambang. Tapi dia hanya
diam dan terus menggenggam tanganku keluar stasiun. Dia melepaskan tanganku
sebentar dan mencari taksi terdekat.
Setelah selesai tawar-menawar dengan sopir taksi dia kembali menarik tanganku
dan memasukkan di bangku belakang taksi.
“Lambang, aku tidak ak....”. Aku mau protes. Tapi belum selesai pintu taksi
sudah tertutup. Dan yang lebih mengejutkan lagi aku melihat Herlambang lari
memutar belakang taksi, membuka pintu taksi dan duduk di sebelahku.
“kamu mau ngapain?, kamu mau ikut aku pulang?”. Tanyaku dengan mata melotot
heran.
“iya, entah kenapa aku kangen gangguin mas Arlan”. Jawab Herlambang.
Kemudian dia menyandarkan kepalanya di sandaran mobil.
“arahkan taksinya, aku capek, mau tidur sebentar”. Kata Herlambang. Dan
bersiap memejamkan matanya sambil menyedekapkan tangannya. Taksi mulai berjalan
Aku masih bingung dengan perbuatannya. Tapi melihat dia sudah tertidur. Aku
diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri
“turun mana mbak?”. Tanya sopir taksi.
Aku menunjukkan kartu nama kakakku. Tertera alamat jelas rumahku. Pak sopir
taksi hanya mengangguk tanda dia tahu jalan ke rumahku.
Desiran angin yang masuk lewat jendela kaca, suara gemuruh dari pohon-pohon
yang terlewati taksi dengan kecapatan maksimum, seakan menandakan malam semakin
mencekam, dengan pemandangan kanan kiri hutan. Tiada lagi suara kendaraan
selain yang aku tumpangi hanya suara angin seram di luar sana. Cahaya mata
mulai terasa redup, seakan sudah tak ada daya untuk melihat lagi, terasa penat
dan lelah, rusukku terasa rapuh ingin segera rebahan di atas tumpukan kapuk
yang nyaman.
Lama sekali tak sampai-sampai, gerutuku sendiri. Aku menengok ke sebelahku. Herlambang sudah tertidur pulas. Melihatnya tidur begitu polos dan damai. Dia benar-benar sosok yang bisa membuat damai siapapun yang melihatnya. Dengan perawakan tinggi besar tapi memiliki wajah yang lembut dan murah senyum. Sikapnya juga yang selalu mengayomi menjadikan dia paket yang sempurna. Benar-benar laki-laki idaman. Dia banyak dikejar-kejar cewek di kampus. Tidak hanya dari fakultasnya saja, tapi hampir di setiap fakultas pasti ada saja yang jadi fansnya Herlambang. Apalagi sepak terjangnya di BEM kampus. Semakin membuat dia terkenan seantero kampus. Tapi entah kenapa sampai sekarang Herlambang belum mau memiliki pacar. Katanya sih dia mau berkarir dulu baru mikir cewek. Sebagai sahabatnya aku hanya prihatin saja. Karena kondisinya berbanding terbalik denganku.
Lama sekali tak sampai-sampai, gerutuku sendiri. Aku menengok ke sebelahku. Herlambang sudah tertidur pulas. Melihatnya tidur begitu polos dan damai. Dia benar-benar sosok yang bisa membuat damai siapapun yang melihatnya. Dengan perawakan tinggi besar tapi memiliki wajah yang lembut dan murah senyum. Sikapnya juga yang selalu mengayomi menjadikan dia paket yang sempurna. Benar-benar laki-laki idaman. Dia banyak dikejar-kejar cewek di kampus. Tidak hanya dari fakultasnya saja, tapi hampir di setiap fakultas pasti ada saja yang jadi fansnya Herlambang. Apalagi sepak terjangnya di BEM kampus. Semakin membuat dia terkenan seantero kampus. Tapi entah kenapa sampai sekarang Herlambang belum mau memiliki pacar. Katanya sih dia mau berkarir dulu baru mikir cewek. Sebagai sahabatnya aku hanya prihatin saja. Karena kondisinya berbanding terbalik denganku.
Selama kuliah sampai sekarang aku memasuki tahun terakhir. Aku sudah 4 kali
ganti cowok. Yah meskipun yang 3 sebelumnya aku selalu dikhianati. Aku
bersyukur pacarku yang terakhir ini setia dan bisa mengerti hubunganku dengan
Herlambang. Namanya Reza. Dia mahasiswa Hukum setahun diatasku. Dia baru lulus
dan sekarang bekerja di Jakarta. Meskipun LDR, dia tidak pernah meragukan
kesetiaanku atau curiga apa-apa dengan Herlambang. Karena ketiga cowokku
sebelumnya, selalu saja berburuk saja dengan Herlambang. Mereka tidak suka
dengan hubungan persahabatanku dengan Herlambang. Memang sih aku akui, hubungan
kami sangat dekat. Dimana ada aku selalu ada Herlambang. Tapi saat pacarku mau
ngajak aku jalan berdua, Herlambang akan mengerti dan tidak mengganggu. Makanya
itu aku ingin dia juga punya pacar, supaya orang-orang tidak salah tafsir
dengan hubungan kami. Tapi kalau dipikir-pikir ada untungnya juga dia tidak
punya pacar. Jadi dia tetap bisa bersamaku kapanpun. Kalau dia punya pacar
bisa-bisa rasa sayangnya dan waktunya bersamaku akan berkurang. Maaf ya Lambang
aku memang egois.
“mbak..mas..sudah sampai”. Kata sopir taksi menyadarkanku dari lamunan
panjangku. Ketika aku mau membayar sopir taksi sebelum turun langsung di tolak
sama pak sopir taksinya.
“sudah dibayar sama masnya mbak”. Kata pak sopir taksinya. Aku terkejut
melihat ke sampingku. Aku membangunkan Herlambang dan aku turun duluan.
“berapa tadi ongkos taksinya?, biar aku ganti”. Kataku pada herlambang
sambil memakai ranselku sendiri. Herlambang masih setengah sadar dan banyak
menguap karena kantuknya.
“sudah nggak usah, kayak sama siapa aja”. Jawabnya enteng dan ngeloyor
jalan duluan.
Aku jalan mendahuluinya dan menghentak-hentakkan kakiku. Menunjukkan
kemarahan dan ketidaksukaanku dengan kelakuannya. Kemudian aku mengetuk pintu
rumahku dengan tidak sabaran dan memanggili ibukku dengan berteriak. Dia hanya
tersenyum dan berjalan mendekatiku.
“sudah jangan marah. Besok traktir aku makan rujak cingur di mbok yah deket
rumahmu. Sampai aku kenyang”. Bujuk Herlambang. Dan aku hanya kaget dan bengong
mendengarnya.
Ckreeeekkkk. Suara pintu rumahku sudah dibuka. Muncul sosok wanita paruh
baya dengan tampilannya yang sederhana dan penuh kebijaksanaan.
“lho mulih tho nduk?, kok ndak ngabari masmu tho?, lha masmu malah nginep
kantore kie piye, kok gak jemput adine?(lho pulang nak?, kok tidak ngabari
kakakmu?, kakakmu malah menghinap di kantonya itu bagaimana, kok tidak jemput
adiknya?.)”. Tanya ibu bertubi-tubi.
“mboten nopo-nopo buk, kulo seng kesupen ngabari mas. Kulo wangsul kaleh
Lambang kok buk (tidak apa-apa bu, saya yang lupa ngabari kakak. Saya pulang
sama Lambang kok.)”. jawabku untuk
meredakan kecemasan ibu.
“oalah lha kok malah ngrepoti nak Lambang kie piye tho nduk? (kok malah
merepotkan nak lambang, itu bagaimana sih?)”. Tanya ibuk sekali lagi.
Karena aku capek aku langsung ngeloyor masuk rumah. Belum sempat jawab
pertanyaan ibu yang terakhir.
“kulo seng purun buk. Mboten ngrepoti nopo-nopo. Kulo kangen kalehan ibuk lan Mas Arlan, kulo nggeh
kangen hawane deso (saya yang mau bu. Tidak merepotkan apa-apa. Saya kangen
sama ibu dan Kak Arlan. Saya juga kangen udara desa)”. Jawab Herlambang dari
belakangku.
“sering-sering dolan rene tho. Ibuk malah seneng malah ono koncone. Masmu
kie nek nyambut gawe wes ra ngerti wektu
(sering-sering main kesini lah. Ibu senang malah ada temannya. Kakakmu tuh
kalau kerja sudah tidak tau waktu)”. Jawab ibu dengan wajah sumringahnya.
Aku membiarkan Herlambang dan ibu berbincang-bincang. Aku langsung ke
kamar, mandi dan tidur. Baru mau memejamkan mata HP-ku bunyi tanda ada yang
menelpon. Kulihat layar smartphoneku. Kulihat nama Reza di layar pemanggil.
Dengan semangat kuangkat telpon dari reza.
“Assalamualaikum za”. Salamku pada Reza.
“Waalaikumsalam cantik, kamu sudah sampai rumah belum?, kok nggak ngabari
aku sih. Aku kan khawatir dan nggak bisa tidur kalo belum dapat kabar darimu..hhhh.”.
Terdengar suara mendesah berat dari seberang sana.
“aku kira kamu sudah tidur. Kan ini sudah tengah malam. Aku lupa ngabari
kakak. Jadinya aku pulang naik taksi ditemani Herlambang”. Aku menjelaskan
keadaanku tadi pada Reza.
“yaudah kalo kamu sudah di rumah dengan selamat. Sampaikan salamku pada
ibuk dan Mas Arlan ya. Juga sama Herlambang, ucapin makasih udah nganter CALON
ISTRIKU sampai rumah”. Kata Reza sambil menekankan kata calon istriku.
“apaan sih za. Udah ah udah malem. Kamu tidur ya. Ini hari libur za, banyak
istirahat ya. Bye za”. Kataku menyudahi telpon.
Aku langsung mematikan HP dan aku langsung menarik selimutku dan tidur. Dan
tanpa sepengetahuanku di seberang sana. Reza entah sudah ke berapa kali dia
mendesah berat menahan amarahnya karena cemburu dengan kedekatanku dengan
Herlambang. Dan tanpa sepengetahuanku pula dia sebenarnya sangat membenci
Herlambang sama seperti mantan-mantanku dulu. Entah aku yang bodoh atau tidak
peka dengan keadaan Reza yang sebenarnya. Entahlah.
Sudah dua hari di rumah. Tapi aku tidak pernah ketemu Mas Arlan. Sudah hari
sabtu dan besok aku harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan perjuanganku.
Sabtu sore kakakku pulang dari kantornya.
“loh mas, prei prei kok tetep kerjo tho, ra ngerti adekmu balik po? (loh
kak, libur libur kok tetap kerja, nggak tahu adekmu pulang apa?)”. tanyaku ke
kakakku.
“malahan mas pengen cepet ngrampungke kerjaane mas mergo sesok ono acara
penting kanggo kowe (malahan kakak mau cepat menyelesaikan kerjaan kakak karena
besok ada acara penting buat kamu)”. Jawab mas Arlan.
Aku hanya mengerutkan alis heran karena aku tidak mengerti apa yang di
maksud kakakku dengan acara penting buatku.
“ono opo tho mas sesok?(ada apa sih mas besok?)”. tanyaku pada kakakku.
“yo deloken dewe (ya lihat saja sendiri)”. Jawab kakakku sambil ngeloyor
pergi. Karena aku masih penasaran aku bertanya ke ibuku. Tapi jawaban yang
kudapat sama saja. Akhirnya aku menyerah dan sibuk sendiri meredam rasa
penasaranku.
Dua hari kemarin aku sibuk menemani Herlambang kesana kemari wisata kuliner
ala desaku. hari ini dia sudah pulang ke rumahnya sendiri. Karena besok kita
berdua harus balik ke jogja sore hari. Karena tidak ada Herlambang aku bingung
mau berbagi dengan siapa rasa penasaranku.
Hari sudah semakin larut. Dari sore aku menahan rasa penasaranku. Dan
sekarang aku sudah tidak tahan. Akhirnya aku memutuskan untuk mendial nomer
Herlambang dan mengadu padanya.
Hampir semaleman aku telponan dengan Herlambang dan tidur menjelang pagi.
Aku bangun kesiangan dan ketinggalan sholat subuh.aku lihat jam weker di
sampingku.
“hah, jam 9”. Kagetku. Aku langsung mandi dan keluar dari kamar untuk
sarapan. Karena jarak ruang makan tidak jauh dari ruang tamu hanya terpisah
oleh ruang tengah. Aku bisa mendengar suara rame-rame dari ruang tamu. Karena
aku penasaran aku segera ke ruang tamu.
Alangkah terkejutnya diriku. Melihat Reza dan keluarganya sedang berbincang
asyik dengan ibu dan kakakku. Melihat diriku mengintip dari balik pintu, ibuku
langsung menoleh padaku.
“ini dia yang ditunggu-tunggu, sudah bangun ternyata”. Kata ibuku dengan
bahasa indonesianya yang pas-pasan sambil menarikku paksa bergabung di ruang
tamu. Ibuku menggunakan bahasa Indonesia memang karena keluarga Reza tidak bisa
bahasa Jawa.
“apa kabarmu dek Nisa?”. Tanya tante Arni ibunya Reza.
“ba..ba..baik tante. Tante sekeluarga bagaimana kabarnya?”. Tanyaku basa-basi pada tante Arni.
“kami semua alhamdulillah baik dek. Hanya keadaan neneknya kurang sehat.
Maklum sudah sepuh. Jadi beliau tidak bisa ikut hanya titip salam saja. Kangen
sama dek Nisa katanya”. Jawab tante Arni.
Aku melihat Reza dan dia hanya memandangiku tanpa berkedip. Aku jadi salah
tingkah dibuatnya.
“aduh ada yang aneh sama diriku apa?, sampai Reza melihatku segitunya”.
Gerutuku dalam hati sambil menunduk malu karena Reza terus saja menatapku.
“ehm..karena Nisa sudah disini. Saatnya acaranya dimulai. Bagaimana Mas
Arlan?”. Tanya Reza pada kakakku
“silahkan dimulai, nggak usah terlalu formal. Yang pentingnya semuanya
tersampaikan dengan baik”. Kata kakakku mempersilahkan Reza. Aku hanya bingung
sebenarnya ada apa ini.
“ehm..Assalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh, saya Reza Arya Kusuma
beserta keluarga datang ke rumah keluarga Ibu Rusmini pagi ini yang tepat pada
Hari Minggu, 2 Mei 2016 bermaksud untuk melamar atau meminang putri Ibu yang
bernama Annisa Widya Rosita”. Kata Reza dengan gamblang dan khidmat dengan
segala niatnya. Aku yang mendengar itu langsung membuat perasaanku melayang.
Aku bahagia, shock, bingung, dan apalagi perasaan yang saat ini berkecamuk di
dadaku. Aku tidak pernah menyangka Reza akan secepat ini melamarku. Saking
senangnya aku justru bengong melamun entah kemana. Dan melupakan sejenak hal
yang paling penting disini.
“ Bagaimana Arlan?”. Tanya ibu ke mas Arlan karena mas Arlan sudah menjadi
kepala keluarga di rumah ini semenjak meninggalnya Ayah.
“kita serahkan saja pada adikku ini,
yang bersangkutan langsung, monggo dek dijawab?”. Mendengar mas Arlan sudah
menyerahkan semua jawabannya padaku. Aku langsung gugup dibuatnya.
“e...e..e...e”. aku hanya bingung mau menjawab apa. Karena jujur ini semua terlalu
mendadak dan aku belum siap dengan semua ini. Hanya kata itu yang bisa keluar.
Aku menunduk lama. Sampai mas Arlan mengingatkanku.
“bagaimana dek?, kalau kamu diam,kakak anggap kamu ragu dan menolak semua
niat Reza”. Kata-kata mas Arlan membuatku kaget dan sontak aku langsung
berdiri. Dari yang tadinya duduk menunduk.
“iya mau...aku bersedia kok”. Kataku setengah berteriak dan membuat seisi
ruangan kaget. Hening sejenak, kemudian mereka tertawa semua. Menertawakan
kekonyolaanaku. Aku hanya nyengir kuda merasa malu dengan perbuatanku barusan.
“Ok, semuanya sudah jelas. Adek saya mau menerima lamaran Reza sekeluarga.
Untuk kelanjutannya saya tunggu kapan kalian siap menikah. Biar saya juga bisa
mempersiapkan diri untuk jadi wali nikah adek saya”. Kata mas Arlan
mengejutkanku dan Reza.
“ Saya mau pernikahan dilangsungkan setelah dek Nisa wisuda, jadi tidak
mengganggu konsentrasi dek Nisa dengan kuliahnya”. Jawab Reza mantap.
Aku terharu melihat ketegasan dan kemantaan Reza. Dan aku jadi yakin untuk
menyerahkan diriku sepenuhnya menjalani masa depanku dengannya. Aku merasa
menjadi wanita paling beruntung di dunia ini memiliki Reza.
“aku setuju”. Aku menambahi jawaban Reza. Reza hanya balas melihatku dan
tersenyum.
“ok, acara ini bisa disudahi, silahkan dilanjutkan ngobrol-ngobrolnya.
Jangan sungkan-sungkan. Angga saja rumah sendiri. Aku pamit ke belakang dulu.”.
Kata mas Arlan. Mas Arlan pamit ke belakang. Aku mengikuti kakakku dan setelah
sampai pintu penghubung antara ruang makan dan dapur kakakku berhenti. Akupun
juga berhenti. Aku melihat punggung kakakku bergetar hebat dan aku juga
mendengar isakan-isakan kecil. Kakakku menangis. Hari ini pertama kalinya aku
melihat kakakku menangis. Kakakku yang selama ini selalu tegar. Bahkan di hari
kematian ayah dia tidak menitikkan air mata sedikitpun. Hari ini dia menangis,
di hari aku dilamar seseorang, dihari paling bahagia di umurku sekarang. Aku
menghampirinya, kuusap punggungnya dengan lembut.
“Mas..” panggilku dengan selembut mungkin. Dia berbalik menatapku dan
memelukku seketika. Tangisnya semakin hebat. Aku biarkan dia meluapkan
segalanya hari ini. Biar hilang semua beban di hatinya. Kakakku memang cuek dan
usil. Tapi aku tahu dia sangat menyayangiku. Begitu sebaliknya aku sangat
menyayanginya.
“ adekku wis gede. Biyen bapak sakkdurunge meninggal nitipke sampean neng
aku. Aku juga durung ngerti maksude njogo awakmu kie piye. Aku mung ngiyani
karepe bapak. Aku takon kyaiku piye nggo jogo awakmu. Tak lakoni opo seng iso
tak lakoni kanggo awakmu. Untunge sampean juga iso njogo kehormatane sampean.
Sampean iso tegas karo kekarepane sampean. Bahkan sampean luwih iso tanggung
jawab dibandingke aku. Aku selalu iso percoyo ngeculne sampean. Dan kebukti
sampean gak pernah gagal. Sampean iso gawe bangga mas lan ibu. Saiki wis
wektune aku nglepas sampean kanggo wong liyo. Dadio garwo sing mangerti mbek
bojo, dadio sandarane, dadio kancane, dadio ibune, dadio mbak yune kanggo
bojomu. Dadio garwo seng iso nggawe tentrem isine omah. Dadio ibu seng iso
didik anak-anakmu tanggung jawab koyo sampean. Mas wis sepenuhe percoyo sampean
iso dadi koyo kuwi kabeh mau (adikku sudah besar. Dulu bapak sebelum meninggal
menitipkan kamu ke aku. Aku juga belum mengerti maksud jaga dirimu bagaiman.
Aku hanya mengiyakan keinginan bapak. Saya tanya kyaiku bagaimana cara jaga
dirimu. Aku jalani apa yang bisa tak jalani buatmu. Untungnya kamu juga menjaga
kehormatanmu sendiri. Kamu bisa tegas dengan keinginanmu. Bahkan kamu bisa
lebih tanggung jawab dibandingkan aku. Aku selalu bisa percaya melepaskanmu.
Dan terbukti kamu tidak pernah gagal. Kamu bisa buat bangga kakak dan ibu.
Sekarang waktunya aku melepasmu untuk orang lain. Jadilah istri yang bisa
mengerti suami, jadilah sandarane, jadilah temannya, jadilah ibunya dan jadilah
kakak perempuan buat suamimu. Jadilah istri yang bisa menentramkan seisi rumah.
Jadilah ibu yang bisa mendidik anak-anakmu tanggung jawab seperti dirimu. Kakak
sudah sepenuhnya percaya kamu bisa menjadi seperti semua itu tadi. )”. Kata kak Arlan panjang lebar sambil
memelukku. Sekrang gantian aku yang menangis sejadi-jadinya. Dan gantian mas
Arlan yang menenangkanku.
“nduk le..reneo sedeluk. Iki wong tuane Reza arep pamit (nak kesini
sebentar. Ini orangtuanya Reza mau pamit)”. Mendengar suara ibu yang berteriak dari
ruang tamu. Aku dan mas Arlan langsung membereskan penampilan, cuci muka dan
langsung lari ke ruang tamu.
“ono opo kalian mlayu-mlayu. Kok teles kabeh kie lagi bar ngopo neng
mburi?”. Tanya ibu pada kami berdua. Aku langsung melihat keadaanku dan Mas Arlan.
Mas arlan juga melihatku dari atas sampai bawah. Memang baju kami hampir basah
semua. Kami saling pandang sejenak kemudian tertawa. Ibu, tante Arni, Reza dan
Om Rio papanya reza hanya heran melihat kami tertawa. Kami langsung membungkam
mulut dan minta maaf. Kemudian kedua orang tuanya Reza pamit kembali ke hotel.
Aku kira Reza juga bakal balik hotel. Ternyata dia masih disini.
“emang kamu habis ngapain di belakang?”. Tanya Reza begitu selesai
mengantar orangtuanya ke mobil.
“nggak apa-apa. Ini rahasiaku dengan kakakku”. Dan Reza hanya mengendikkan
bahunya.
“ kok kamu nggak ikut orang tuamu pulang?”. Tanyaku ke Reza.
“ wah ngusir calon suami nih ceritanya”. Kata Reza sambil menggodaku.
“ iya kan baru calon belum sah”. Cibirku ke Reza dan lari masuk ke dalam
rumah.
Aku melihat kakakku sebentar keluar dari kamarnya setelah ganti baju. Dia
hanya tersenyum. Aku balas tersenyum. Aku langsung masuk kamar untuk ganti
baju. Hari ini aku tahu sisi lain dari
kakakku. Setegar-tegarnya dia, dia juga punya sisi lemah. Dan hari ini dia
sudah menumpahkan semuanya. Melepaskan bebannya. Aku harap setelah ini kakak
lebih bisa bahagia dan ringan menjalani hidupnya. Semoga kakak juga cepat
mendapatkan pendamping hidupnya agar dia tidak perlu menangis sendiri. Agar dia
juga bisa bahagia.
Setelah ganti baju aku menemani Reza muter-muter di desaku. Dia sangat
takjub dengan hamparan Hijau di perbatasan desa. Dia sangat senang jalan-jalan di pematang sawah. Dia seperti
anak kecil mendapat mainan yang diinginkannya. Tidak ada hentinya mulutknya
mengatakan wah sampai terus menganga. Berlari-lari merentangkan tangannya
menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“wow keren, kok kamu nggak pernah cerita sih kalo desamu seindah ini”. Kata
reza sambil memandang luasnya langit.
“kamu kan nggak pernah tanya”. Jawabku sekenanya. Karena aku sudah capek
mengikuti Reza.
“apa Lambang sering kesini?, apa kalian sering maen bareng ke tempat ini?”.
Tanya reza.
“ dari jaman kita masih sekolah dia paling suka ikut aku pulang. Weekend
dia selalu kesini. Tapi karena rumahku sudah seperti rumahnya sendiri. Dia
sering keliling sendiri. Aku nggak tau dia udah kemana saja selama di desaku.
Hanya sesekali saja aku menemaninya. Itupun karena aku janji traktir makan dia
sebelumnya”. Jawabku pada reza.
“ow..kirain kamu selalu menemaninya, seperti selama ini dia selalu
menemanimu di kampus”. Kata Reza. Dan aku menangkap sedikit nada ketidaksukaan
disana,
“ kamu nggak cemburu sama Lambang kan?”. Tanyaku pada Reza.
“Emang aku berhak?”. Balas Reza dengan nada menahan marah.
“aku tau dia orang spesial buatmu, dan aku maklumi itu. Tapi bagaimanapun
aku nggak suka dia selalu di sekitarmu. Makanya aku ingin segera mengikatmu
dengan penikahan. Agar aku bisa menggantikan peran dia. Dan aku bisa bilang ke
dia kalau itu tugasku”. Kata reza panjang lebar.
“aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin perhatian, cinta dan sayangmu
hanya untukku. Aku ingin semua waktumu terisi olehku bukan Lambang. Aku memang
akan membatasi waktumu dengan Lambang. Tapi aku tidak akan menghalangimu untuk
menemui dia”. Kata reza menjelaskan semuanya. Dan aku hanya mengangguk terharu.
“aku akan mengisi duniaku denganmu sepenuhnya”. Tangisksu.
Dia hanya mengangguk. Dia menggenggam tanganku menyusuri pematang sawah
menuju mobil. Hatiku merasa hangat dibuatnya. Sorenya Reza pamit balik ke
hotel. Dan malamnya aku dan Lambang balik ke Jogja.
***
Baru seminggu di Jogja, Lambang mengabariku kalau dia pulang lagi. Ada
urusan keluarga katanya. Lambang jadi sering pulang hampir setiap minggu dia
selalu pulang. Setiap kali aku tanya ada apa. Dia selalu tidak mau cerita.
Lama-lama Lambang semakin menjauh dari aku dan makin susah ditemui. Hari-hariku
makin sepi tanpa kehadiran Lambang. Aku merindukan kehadirannya seperti dulu.
Selalu ada dimanapun aku ada. Dulu weekend kita selalu muter-muter Jogja tanpa
tujuan yang jelas. Herlambang yang selalu ngantar jemput aku karena aku memang
tidak punya motor. Sekarang kemana-mana aku harus sendiri dan mengandalkan
angkutan umum. Sudah dua bulan ini Herlambang sering pulang dan tidak jelas apa
masalahnya. Aku jadi lebih sering menghubungi Reza. Sedikit mengobati
kesepianku. Tapi ketidakhadiran Herlambang beberapa bulan ini tetap membuat
terasa ada yang hilang. Hari menjelang sore dan dua hari ini aku tidak
kemana-mana. Aku bosan dan aku benar-benar merindukan sahabatku. Pertama aku
dial nomer Herlambang. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk
menghubungi tante Ratri mamanya Lambang. Kupencet nomer tujuanku. Dan terdengar
nada sambung ke HP tujuan.
“iya halo dek Nisa. Assalamualaikum, bagaimana kabarmu dek?”. Sapa orang
dari seberang sana.
“waalaikumsalam, baik tante. Kabar tante sekeluarga juga gimana?” sapaku
basa-basi.
“baik nak, tapi Lambang makin hari makin drop”. Jawab tante Ratri dengan
nada lesu.
“Lambang sakit?. Sakit apa ya tante?. Trus gimana kondisinya sekarang?”.
Tanyaku panik. Karena memang Lambang tidak pernah cerita kalau dia sakit atau
punya keluhan kesehatan.
“loh kok dek Nisa nggak tau?. Emang Lambang tidak cerita apa-apa sama dek
Nisa?”. Tante Ratri balik bertanya kepadaku.
“sudah dua bulan ini aku susah menemui Lambang tante. Dia seperti menjauh
dari aku. Kalo aku tanya dia kenapa, dia nggak pernah mau jawab. Dan sudah
sebulan aku sama sekali tidak bertemu Lambang. Dia juga makin susah aku hubungi”.
Jawabku dengan sedih. Membayangkankan bagaimana deketnya aku dengan Herlambang.
“ooo, mungkin memang Lambang mau merahasiakan semua dari dek Nisa”. Tante
Ratri berusaha menghiburku.
“Herlambang sakit apa tante?. Aku mohon tante mau jawab. Jangan sembunyiin
apa-apa dari aku. Bagaimanapun Lambang orang paling dekat denganku selama ini”.
Mohonku sama tante Ratri.
“hiks..hiks.. Lambang mengalami kelainan di kedua ginjalnya dan dua-duanya
harus diangkat. Sudah 2 bulan Lambang menjalani cuci darah tiap minggunya. Dan
sampai hari ini Lambang belum mendapat donor Ginjal yang pas..hiks”. terdengar
isakan-isakan kecil dari suara Tante Ratri.
Aku shock mendengar itu semua. Herlambang sahabatku yang selama ini selalu
ada buatku. Sekarang menghadapi perjuangan hidupnya sendiri. Dia sama sekali
tidak mau berbagi penderiataannya denganku. Dia anggap apa aku selama ini.
Sekarang perasaan khawatir, penasaran, dan shock menjadi satu. Aku menangis
sejadi-jadinya.
“ta..ta..hiks..hiks..ta..tapi kenapa dia nggak bilang apa-apa sama aku?,
tante”. Tanyaku pada tante Ratri.
“tante tidak tau apa-apa dek. Datanglah ke RSU Medika Madiun. Mungkin
dengan kehadiran dek Nisa dia bisa makin semangat. Kemarin dia bilang ke
papanya, klo dia..hiks..hiks..sudah mau menyerah. Maaf dek tante tutup ya.
Bentar lagi Lambang keluar dari ruang cuci darah. Tante nggak mau dia mendengar
telpon kita. Biarkan ini jadi kejutan buat dia”. Kata tante Ratri mengakhiri
telpon denganku.
Aku masih termenung karena shock yang menderaku. Bahkan aku tidak sadar
kalo HP-ku sudah lepas dari genggamanku dan mencium lantai sampai bagiannya
pisah-pisah. Aku ingin saat itu juga untuk pulang ke Madiun. Aku segera
meluncur ke stasiun tapi apa daya. Aku kehabisan tiket. Dan kereta yang bisanya
beroperasi bolak-balik madiun jogja sedang tidak beroperasi. Setelah itu aku
langsung menuju terminal. Tapi aku nggak menemui bis Jogja-Srabaya yang
biasanya beroperasi. Aku bertanya pada petugas terminal. Dan katanya bis
Jogja-Surabaya sudah dialihkan ke Solo-Surabaya. Mau mencari bis Solo-Jogja
sudah kesorean. Akhirnya aku tunda kepulanganku.
Sudah dua hari rencana kepulanganku tertunda. Ada saja halangan untuk aku
pulang. Sedangkan di Madiun, kondisi Herlambang makin drop. Dan sekali lagi aku
tidak tau apa-apa.Cuci darah yang biasa dia jalani sudah tidak bisa membantu
banyak. Saat ini kondisi Herlambang kritis banyak selang dari alat-alat medis
yang dipasang untuk menopang hidupnya. Semenajak terakhir cuci darah kondisi
Herlambang tidak ada kemajuan. Dan dari kemarin dia malah jatuh koma. Sekarang
Herlambang dirawat di ICU. Kedua orang tuanya hanya bisa menangis dan berdoa.
Dua hari lalu Herlambang mendengar semua percakapan Telponku dengan
mamanya. Dan dia memperingatkan mamanya untuk tidak menerima telpon atau
hubungan apapun dariku. Karena dia tidak ingin aku melihat kondisinya yang
miris seperti itu. Dia makin kurus dan pucat. Bahkan sekarang dia terbaring
lemah koma. Dia paling tidak suka melihatku menangis.
Hari ini jumat, semua urusan kampus yang menjadi penghalangku pulang sudah
kuselesaikan. Hari ini aku bertekad harus pulang. Entah mau naik apa saja. Aku
ke stasiun untung ada sisa tiket kereta Jogja-Surabaya siang ini. Aku meluncur
ke Madiun siang itu juga. Aku sengaja turun di Stasiun Madiun karena lokasinya
lebih dekat dengan RSU Medika tempat Herlambang dirawat. Aku sengaja tidak
mengabari ibu atau kakakku, karena aku juga tidak tahu sempat pulang ke rumah
atau tidak.
Sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan kenangan-kenangan bersama
Herlambang. Aku hanya menatap lurus menatap keluar jendela dan menangis pelan.
Bukan karena menikmati pemandangan tapi karena pikiranku sekarang hanya tertuju
pada Herlambang. Tiba-tiba HP-ku bergetar tanda ada telepon. Kulihat layar
HP-ku dan pemanggilnya adalah Reza.
“ assalamualaikum za, ada apa?”. Sapaku ke penelpon di seberang sana.
“ waalaikumsalam, kamu dimana yang?. kok nggak ada di kos?. aku lagi
dijogja nih”. Jawab Reza dari seberang sana.
“maaf za, aku nggak ngabari kamu dulu. Aku hari ini pulang mungkin besok
sore baru balik jogja”. Jawabku dengan malas.
“kamu kangen ibu sama kakakmu?. Atau jangan terjadi sesuatu di rumah?. Ibu
sama kakak kamu baik-baik aja kan?. Kok dadakan banget kamu pulangnya?”.
Cerocos Reza bertubi-tubi. Kutangkap nada cemas disana.
“nggak Za, bukan kakak atau Ibu, tapi Herlambang”. Jawabku.
Hening sejenak. Aku tunggu Reza bicara. Tapi tak kunjung bicara juga.
“ za, kamu nggak apa-apa kan?”. Tanyaku pada Reza.
“yaudah cepet balik Jogja ya. Aku dua minggu ke depan ada di Jogja. Bye”.
Jawab Reza mengakhiri telpon tiba-tiba dan langsung diputus.
Aku tahu sekali lagi Reza cemburu. Aku biarkan Reza dulu. Saat ini fokusku
ke Herlambang.
“Maaf ya za, saat ini sahabatku lebih butuh aku dibanding kamu”. Aku
berbicara sendiri berharap Reza mendengarnya dan mau mengerti.
Sedangkan keadaan Herlambang di RS semakin mengkhawatirkan. Pagi ini dia
sempat kehilangan detak jantungnya. Untung saja tim dokter masih bisa
menyelamatkannnya. Dokter yang merawat Herlambang sudah tidak ada harapan lagi
untuk Herlambang. Selain karena Herlambang yang belum mendapat donor ginjal,
kondisi tubuhnya tidak akan kuat untuk menjalani operasi. Dan dokter bilang
mungkin Herlambang hanya akan bertahan beberapa jam lagi atau beberapa hari
kemudian.
Tepat jam 3 sore. Herlambang membuka matanya. Dia memanggil kedua orang
tuanya. Suster yang menyaksikan itu langsung memanggil orang tua Herlambang.
Mama dan papanya langsung buru-buru masuk dan mendekat ke ranjang Herlambang.
“ mah, pa, maafin Lambang belum bisa membahagiakan kalian. Lambang minta
maaf untuk semua kenakalan Lambang. Tolong sampaikan surat ini ke Annisa”. Dia
memberikan surat yang diambil dari bawah bantalnya
“ Maaf ma pa, Lambang harus pamit. Auww..sakit ma pa”. Teriak herlambang
sambil meringis menahan sakit. Melihat anaknya yang seperti itu tante Ratri
hanya menangis dan keluar ruangan karena tidak sanggup melihat semua itu.
“Ma..ma..af..Lll..Lambang..su..dah..nggak..ku..at.
tolong..bim.bing..Lambang pa”. Om Hendra papanya Herlambang langsung membimbing
Herlambang menyebut istigfar dan kalimat Lailahaillallah. Meskipun dengan suara
terbata-bata Lambang bisa mengikutinya. Dan seketika papan penunjuk detak
jantung menunjukkan garis lurus. Tiiiiiiiiiittt, bunyi mesin pendeteksi
jantung. Mendengar itu tante Ratri masuk kembali dan melihat anaknya sudah
menjadi raga tanpa nyawa. Dingin dan pucat. Pecahlah tangis tante Ratri dan Om
Hendra hanya menangis tertahan melihat pemandangan di depannya.
Aku tepat jam 3 sampai madiun, langsung naik ojek menuju rumah sakit. Tapi
ketika aku sampai resepsionis aku melihat tante Ratri dan Om Hendra mengikuti
ranjang yang didorong beberapa petugas rumah sakit. Ranjang itu berisi sesosok
manusia yang sudah ditutupi kain putih dari kepala sampai kakinya. Aku langsung
menyetop ranjang tersebut dan entah apa yang ada di pikiranku. Aku membuka
selimut dan melihat wajah jasad tersebut. Melihat wajah pucat Herlambang aku
hanya berdiri terpaku dan bengong. Aku masih tidak percaya Lambangku yang saat
ini terbujur kaku didepanku. Ranjang tersebut didorong lagi dan selimut yang
aku buka sudah ditutupkan kembali. Tante Ratri memeluk bahuku dan membawaku
bersamanya. Aku ikut masuk ke mobil om Hendra dan Tante Ratri. Aku masih
bengong. Aku mengikuti mereka semua sampai ke rumah Herlambang. Tante Ratri
membawaku ke kamar Herlambang. Aku masih tetap bengong. Entah bagaimana
berseliweran semua kenangan bersama herlambang di otakku. Dan aku masih
bengong. Ketika jasad Herlambang siap untuk diberangkatkan ke pemakaman
setempat. Tante Ratri memeluk bahuku membantuku berdiri, memakaikan selendang
hitam di kepalaku dan membawaku ke pemakaman Herlambang. Sampai pemakaman
selesai aku masih tidak bergeming. Tante Ratri membawaku ke kamar Herlambang
lagi. Diambilkannya beberapa album foto dan amplop diatasnya. Aku tidak tahu
apa isi amplop tersebut. Dia hanya menaruh semua itu di pangkuanku.
“lihatlah semua ini dan bacalah surat terakhir Herlambang untukmu”. Kata
tante Ratri dengan suara paraunya karena terlalu banyak menangis. Mendengar
kata surat terakhir aku langsung tersadar dari lamunan panjangku. Tante Ratri
mencium keningku dan meninggalkanku sendirian di kamar Herlambang.
Aku membalik-balik melihat album foto tersebut. Banyak fotoku dan
Herlambang dari kecil sampai kami kuliah. Satu, dua, tiga, sudah tiga album
foto kulihat dengan seksama. Membangkitkan kenanganku dengan Herlambang. Semuanya
menggambarkan kebahagiaan yang selalu terpancar di wajah kami ketika bersama.
Kuambil surat yang diamplop, kubuka dan kubaca dengan hati-hati.
Dear Nisa,
Assalamualaikum,
Makasih
sudah hadir di hidupku. Makasih sudah mewarnainya dengan berbagai macam warna.
Hidupku yang dulunya sepi menjadi berwarna karena kamu ada. Setelah
bertahun-tahun bersahabat denganmu. Aku menjadi sangat mengenalmu. Sampai kita
SMA tanpa kusadari cinta itu datang. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Aku
ingin selalu membuatmu bahagia. Sampai suatu saat kamu mulai pacaran dengan
laki-laki lain. Kamu memang tidak pernah mengabaikanku. Tapi rasa cemburu itu
tetap ada. Aku menahan semuanya meskipun rasanya aku mau mengamuk ke
pacar-pacarmu itu. Ketika kamu terluka karena mereka, aku lebih tidak suka
lagi. Tapi aku menahan semuanya, karena aku takut kamu tehu perasaanku dan menjauh
dariku. Kamu orang paling berharga di hidupku Nis. Aku nggak pernah bisa hidup
kalo kamu sampai menjauh dan membenciku. Aku memutuskan untuk memendam semua
rasaku sendiri.
Sampai
dua bulan lalu, aku mendapat kabar dari Reza kalo dia mau melamarmu. Dan aku
mendukungnya meskipun aku merasa tersakiti sekali lagi. Dan saat itu aku
didiagnosa mengalami kelainan ginjal. Aku hanya berpikir mungkin sudah saatnya
aku melepaskanmu untuk kebahagiaanmu. Sudah saatnya aku pergi karena sudah ada
orang yang bisa menjagamu. Aku memutuskan untuk menghindarimu dan menjauh
darimu agar kamu terbiasa tanpaku. Aku tidak mau melihatmu menitikkan air mata
karenaku. Aku ikhlas menjalani semuanya. Karena memang dari awal aku memang
sudah tidak ada harapan.
Maaf
karena aku mengabaikanmu. Aku bukan mau menyakitimu tapi aku ingin kamu
terbiasa tanpaku. Aku tidak mau menjadi penghalang kebahagiaanmu dengan Reza.
Tetaplah tersenyum. Buatlah keluarga yang besar dengan banyak anak. Aku akan
dengan bahagia menyaksikanmu dari surga sana.
Aku
memang mencintaimu, tapi cintaku tidak bersyarat, cintaku tidak meminta
balasan, cintaku tidak akan mengikatmu. Cintaku hanya sesuatu yang murni yang
akan menemanimu seumur hidupmu dalam kebahagiaan. Jangan menangis setelah
kepergianku karena aku tidak akan bisa menenangkamu lagi. Teruslah warnai
hidupmu dengan kebahagiaan. Tetaplah tegar dan tersenyum wahai bidadariku. Kan
kutunggu kau di ujung dunia sana.
Sahabatmu sekaligus penjaga hatimu
Herlambang
Kulipat kembali surat tersebut
kusimpan dalam tasku. Kukembalikan lagi album foto ke tempatnya dan aku menghapus
air mataku. Aku berjalan dengan mantap keluar dari kamar Herlambang. Tante
Ratri yang melihatku hanya tersenyum.
“jangan lupakan Lambang ya.
Sering-sering main kesini biar tante nggak kesepian. Sekarang kamu adalah anak
perempuan tante satu-satunya”. Tante Ratri menangis dan memelukku. Kurasakan
pelukannya yang hangat dan tulus. Kemudian Om Hendra yang memelukku sambil
sedikit terisak.
“om memang nggak banyak omong. Tapi
om sudah mengannggap kamu seperti anak om sendiri”. Hari ini kudapatkan kembali
kasih sayang seorang Ayah.
Aku melangkah keluar rumah dan aku
kembali ke jogja malam itu juga dengan kereta malam.
“terima kasih Lambang sudah menjadi
kakak, ayah dan sahabat yang baik buatku. Aku janji akan hidup bahagia untukmu.
Aku akan terus tersenyum supaya kamu tenang. Kamu mungkin bukan cinta sejatiku
didunia. Tapi aku berharap kita bisa bersatu di dunia yang lebih baik di masa
yang akan datang. Aku akan berbahagia di dunia ini dengan Reza. Jangan minta
aku melupakanmu karena itu tidak mungkin. Mungkin aku bisa melupakanmu sejenak.
Tapi aku pasti akan mencarimu di suatu waktu nanti. Biarkan kamu tetaphidup di
sudut hatiku. Dan hanya aku yang tahu. Akan selalu kupanjatkan doa untukmu di
setiap sholatku.
Aku kembali ke Jogja dengan perasaan
ringan. Aku tidak bisa lama di rumah Herlambang karena aku takut keyakinanku
untuk hidup tanpa Herlambang akan goyah dan jatuh lebih terpuruk. Biar aku
mendoakan Herlambang sendiri dengan caraku sendiri. Sekarang aku tidak akan
menagis lagi karena kehilanganmu. Justru aku akan semakin bersemangat dengan
mengingatmu. Karena hari ini aku belajar arti cinta darimu. Kereta malam
membawaku menjauh dari jasad Herlambang dan semakin menjauh mendekati
kebahagianku yang lain yaitu Reza
.
selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar