Pagi menjelang, menampakkan matahari yang malu-malu nampak di ufuk timur. embun masih tebal menyelimuti kota Jogja. jam sudah mennjukkan 05.30. aku segera mengambil sepatu kets-ku dan bersiap olahraga lari keliling kompleks kosku. Aku berlari santai menghirup udara pagi yang masih bersih dari polusi. jalanan masih sepi. aku berniat menuju lembah UGM, karena disana tempatnya sejuk karena masih banyak pohon dan ada fasilitas jogging track yang memang sering digunakan mahasiswa untuk olahraga. aku berputar mengelilingi danau dan lumayan menguras energi. aku istirahat di bangku sekitar danau sambil menikmati pemandangan sekitarku.
tak terasa sudah satu bulan aku pacaran dengan Adam. dia sangat mengerti bagaimana memperlakukan aku dengan baik. dia begitu dewasa dibalik umurnya yang masih sebaya denganku. aku masih sering egois dibandingkan dengan dia. tapi dia selalu bisa meluluhlantahkan keegoisanku.
aku melamun sebentar membayangkan hari-hariku bersama Adam. aku tersenyum sendiri mengingatnya. aku berharap kebahagiaan ini bakal terus menghiasi hidupku. karena baru kali ini aku memberanikan untuk pacaran. setelah semasa SMA hanya aku habiskan untuk mengagumi cinta pertamaku.
"Hai manis, sendirian aja..senyum-senyum lagi..ntar banyak kumbang pada pingsan lho.." aku terkejut karena ada seseorang tiba-tiba merangkulku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahuku. aku menengok ke samping. ternyata adam yang sedang memelukku.
"adam!!!..kamu bikin kaget aja sih.."aku sedikit meninggikan nada bicaraku karena emang kesal dibuatnya. adam hanya terkekeh mendengarnya.
" Kamu ngapain senyam senyum tadi?..mikirin aku yaaa??..."Adam mulai usil menggodaku sampai pipiku merah dibuatnya. Aku hanya diam memalingkan wajahku sampai detak jantungku normal kembali. entah kenapa tiap dia datang tiba-tiba padaku detak jantungku jadi bekerja berlipat-lipat lebih cepat.
"jangan suka gitu ahh..balik yuuk.."aku menarik tangan Adam bermaksud mengajaknya pergi dari tempat itu. karena tempatnya mulai ramai. Adam nurut saja awalnya. berapa detik kemudian dia berlari mendahuluiku dan menarik tanganku. aku menurut saja, adam mengantarkan aku sampai kosku.
"kok nggak bilang kalo olahraga disitu?." tanyaku pada adam. selagi adam menuntunku untuk duduk di pos ronda depan kosku. adam hanya diam menatap lurus. tatapannya kosong membuatku berfikir dia pasti melamun.
" dam..adam." aku melambaikan tanganku didepan matanya untuk menyadarkan Adam.
" ohhh..iyaa..kenapa?." gugup adam bertanya balik padaku.
"kamu kenapa?..kok melamun tumben? kenapa ngga bilang kalo olahraga disitu?. tau gitu kan aku ajak bareng kamu. jadi, aku nggak sendirian kayak tadi." kataku pada adam.
" sory, tadi juga pengennya dadakan. lari lari lari. ehh sampainya kesitu." kata adam
" tumben kamu nggak fokus dam. jarang-jarang kamu lari tanpa tujuan gitu. biasanya mau kemanapun dan mau ngapain pun kamu selalu pikirkan dulu. apa kamu ada masalah?. kamu bisa bicara apapun padaku dam. kamu bisa minta bantuan apapun sama aku. ini kan fungsinya kita pacaran untuk mendukung satu sama lain. tak ada yang perlu disembunyikan." kataku panjang lebar. karena aku mulai mengkhawatirkan Adam.
" nggak apa-apa. nanti kalo aku sudah siap aku akan cerita segalanya sama kamu. kamu masuk ya.." adam memegang bahuku mencium dahiku dan berlari berlalu begitu saja. meninggalkanku dengan rasa penasaranku.
jam sudah menunjukkan pukul 09.00. aku sudah telat di jam mata kuliah pertamaku hari ini. aku berlari sampai kampus ternyata pintu ruang kuliah sudah ditutup sudah tidak boleh aa yang masuk. aku hanya mendesah pasrah. aku jalan menuju spot kesenanganku di perpustakaan fakultas. ternyata sudah ada yang menempati. aku makin kehilangan moodku. aku berjalan menuju fakultasnya Adam. aku duduk di kantin fakultas hukum. aku mengeluarkan HP-ku bermaksud menelpon Adam. baru aku memencet nomernya dan menaruh hp-ku di kuping. aku melihat adam berlari melambaikan tangan pada seseorang. aku tidak jadi menelponnya. aku berlari mengikuti Adam bermaksud menghampirinya.
" yang..aku disini.." cewek itu melambaikan tangan ke Adam. dan apa yang aku dengar tadi. dia memanggil Adam dengan sebutan "yang".
"sayang maksudnya kah?apa hubungan cewek itu dengan Adam? kenapa dia memanggil adam sayang?." hatiku bertanya-tanya tak ada habisnya. aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya. aku bersembunyi di balik tembok tak jauh dari posisi adam berdiri bercengkrama dengan cewek itu. Adam terlihat kaku disamping cewek itu. dia seperti tidak nyaman. tapi cewek itu bertingkah manja padanya dan beberapa detik kemudian tangannya cewek itu bergelayut manja di lengan Adam.
mataku perih melihat pemandangan didepanku. aku hanya bisa berdiri mematung tidak percaya. air mataku mulai menetes dan aku hanya bisa bisa dalam kebisuan sampai ada yang menabrakku sampai aku jatuh tersungkur.
" maaf maaf." kata seseorang yang menabrakku tadi. dia hanya membantuku berdiri dan segera berlalu.
adam menengok mencari asal kericuhan yang sesaat terjadi di dekatnya. dia melihat ke arahku. dia kaget melihatku. dia segera melepat tautan tangan cewek tadi dan berlari kearahku. aku hanya diam menatapnya. dia menghampiriku dan menarik tanganku menjauhi tempat itu. sampai tempat yang agak sepi adam berhenti berbalik menghadapku dan kemudian memelukku. aku hanya diam berdiri dalam pelukannya tanpa berniat membalas pelukannya. aku masih menangis mencoba mencerna apa yang terjadi sebelumnya.
" marahlah..kalo kamu mau marah padaku. pukullah aku sesukamu. maki aku. tampar aku. kalo perlu bunuh aku. tapi aku mohon bicaralah. jangan hanya diam menangis begini. jangan buat aku makin merasa bersalah." adam berkata dengan nada bergetar pertanda kalo dia juga ikut menangis. aku menarik tubuhku dari pelukannya. aku melihat sorot kesakitan di matanya seperti dia tidak mau melakukan hal ini. hal ini juga membuatnya terluka. hal yang seharusnya tidak pernah dia lakukan padaku. dia menduakanku. tapi memang kenyataannya begitu. Adam meneteskan air matanya. melihat dia menangis membuat kesadaranku kembali dari ketidakpercayaan dengan kenyataan yang ada. aku melihat Adamku menangis dan terlihat lemah. baru kali ini adam memperlihatkan sisi lemahnya selama satu bulan pacaran. aku tidak sanggup melihatnya. aku menghapus air matanya. dalam sekejap adam menarikku dalam pelukannya lagi. memelukku posesif makin erat. menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. membuatku merasa nyaman menghirup aroma maskulinnya selalu membuat hatiku tenang. aku membalas pelukannya dan makin menenggelamkan wajahku di dadanya. bahunya bergetar pertanda dia masih menangis. aku masih diam menikmati kenyamanan pelukannya. karena aku tiba-tiba menyadari sesuatu. aku merasa harus segera melepaskan lelaki ini. melepaskan seseorang yang berharga di hidupku. entah apapun alasannya nanti aku tidak bisa bersama laki-laki ini. karena yang telah dia lakukan apapun alasannya dia salah, dia sudah menghianati hubungan kami. dan aku paling tidak bisa mentolerir kesalahan itu.
" tinggalkan aku dam!!." aku berkata dengan tegas sambil melepaskan pelukanku dan menarik tubuhku dari jangkauannya. Adam terlihat shock dengan apa yang aku katakan. Dia hanya berdiri mematung. Sesaat kemudian dia roboh, dia berlutut.
"Apakah harus seperti ini?, tolong dengarkan dulu." adam mencoba peruntungan terakhirnya untuk mempertahankan aku disisinya. Aku hanya diam, aku sakit melihat adamku lemah seperti ini. Dia selalu ceria, bawel dan penuh semangat. Tapi hari ini dia jatuh ke titik terlemahnya. Dia mencoba menjelaskan semuanya dan aku hanya memberi dia kesempatan.
" dia sheila, dia anak pak camat, dia teman smp sekaligus teman sma ku. Dia menyukaiku sejak smp. Dia berulang kali menyatakan perasaannya, tapi aku tidak bisa menerimanya. Sebelum ujian nasional aku diam-diam mengambil tes universitas dan beasiswa. Aku diterima disini, tapi ujian beasiswaku tidak lolos. Ketika 3 hari sebelum waktu daftar ulang tiba, aku bicara dengan ibuku. Ibuku hanya janda dengan anak 3, beliau jualan pecel kalau pagi, siang malam dia menjadi buruh cuci. aku pikir ibuku akan keberatan dengan kuliahku. tapi justru sebaliknya. Ibuku bilang bahwa beliau akan mendukung apapun yang saya impikan, karena aku anak pertama. Aku harapan terbesar keluarga kecil kami. Ibu bilang berapapun biayanya beliau akan usahakan. Aku memberikan rincian biaya kuliah awal dan kos. Waktu itu aku perkirakan sekitar 13-15 juta. Ibu menyanggupinya juga beliau berjanji akan memberikan uang bulanan tapi tidaklah besar. aku bersyukur mendengarnya. 3 hari kemudian ketika aku mau berangkat daftar ulang ibu memberikan aku uang 17 juta katanya buat pegangan sekalian untuk beberapa bulan depan. ibu bilang uang itu hasil menabung ibu selama beberapa tahun. aku lega mendengarnya karena ibu tidak hutang atau menggadaikan sesuatu. aku daftar ulang, bayar kos setahun dan sisanya aku gunakan untuk keperluan sehari-hari sisanya tidak banyak. tapi kemarin siang sheila mendatangiku di kos. katanya ada hal penting yang harus dia bicarakan. sheila bilang dia ingin menagih janjiku menjadikan dia calon istriku. aku kaget mendengarnya, aku tidak pernah berjanji apa-apa sama dia. dia menjelaskan dari awal kalo uang yang diberikan ibuku adalah hasil meminjam dari ayahnya. karena sheila melihat ibuku mohon-mohon dan menangis saat itu pada ayahnya dia tidak tega. dia meminta ayahnya membantu ibuku dengan syarat aku harus mau menjadi suaminya nanti setelah aku bekerja karena sheila memang sudah lama mengincarku. ayahnya sheila berjanji akan membiayai semua biaya kuliahku dan kebutuhanku. ibuku tidak punya pilihan lain selain menyanggupinya. karena aku tidak percaya aku menelpon ibuku untuk memastikan. tapi ketika aku tanyakan itu beliau hanya menangis dan membenarkan. aku memutus sepihak hubungan telpon kami dan aku juga masih berpikir untuk jalan keluarnya sampai sekarang. tapi aku masih buntu. jadi sekarang aku tidak punya pilihan lain. aku harus pacaran dengan sheila mulai kemarin. aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi aku tidak punya jalan lain saat ini." adam menangis bahunya gemetar dia makin menunduk. aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan dengan masalah ini. aku tidak mau melihat lelakiku lemah seperti ini. aku juga ikut berlutut di hadapan adam. akupun juga tidak bisa membendung tangisanku. dengan terisak aku menggenggam tangan adam. entah apa yang aku pikirkan saat itu. aku melepaskan tangan itu dan meninggalkannya.
adam tetap dengan possinya seperti dan tidak mencoba mengejarku saat aku meninggalkannya. aku hanya menangis saat itu aku hanya ingin pulang. aku pulang ke kosku.
beberapa hari aku tidak semangat menjalani hari-hariku kuliah. adam tidak menghubungiku begitupun sebaliknya. aku merindukannya tapi aku mau memberi waktu pada adam untuk berpikir sendiri. aku tidak membenarkan perbuatannya tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya. aku bingung dengan nasib hubungan kami.
entahlah semoga waktu segera menjawab semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar